Sabtu, 20 Februari 2016

MODEL-MODEL KURIKULUM



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Telah diketahui bahwa terdapat empat aliran pendidikan yaitu pendidikan klasik, pribadi, teknologi, dan interaksionis. Empat aliran atau teori pendidikan tersebut memiliki model kurikulum dan praktik pendidikan yang berbeda. Model kurikulum dari teori pendidikan klasik disebut kurikulum subjek akademis, pendidikan pribadi disebut kurikulum humanistik, teknologi pendidikan disebut kurikulum teknologis dan dari pendidikan interaksionis disebut kurikulum rekonstruksi sosial. Konsep kurikulum subjek akademik dipandang sebagai wahana untuk mengendalikan mata pelajaran yang akan dipelajari oleh peserta didik. Mereka menganggap bahwa kurikulum merupakan jalan terbaik untuk mengembangkan pemikiran dan penguasaan pengetahuan secara umum ditemukan dalam kurikulum yang memberikan kontribusi rasional. Adapun konsep kurikulum humanistik lebih mengarah pada kurikulum yang dapat memuaskan setiap individu, agar mereka dapat mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan potensi dan keunikan masing-masing. Sedangkan konsep kurikulum rekonstruksi sosial tidak sekedar menekankan pada minat individu, tetapi juga pada kebutuhan sosialnya. Tanggung jawab kurikulum ini adalah untuk memberikan dampak sosial, dalam pembentukan dan penciptaan masyarakat masa datang yang lebih baik juga memberi penekanan pada proses pengembangan nilai-nilai sosial. Terakhir konsep kurikulum teknologi memberi pandangan bahwa kurikulum harus dibuat sebagai suatu proses teknologi untuk dapat memenuhi keinginan membuat kebijakan.
B.     RUMUSAN MASALAH
*      Apa yang dimaksud kurikulum subjek akademis?
*      Apa yang dimaksud kurikulum humanistik?
*      Apa yang dimaksud kurikulum rekonstruksi sosial?
*      Apa yang dimaksud kurikulum teknologi?
C.    TUJUAN
*      Mengetahui kurikulum subjek akademis.
*      Mengetahui kurikulum humanistik.
*      Mengetahui kurikulum rekonstruksi sosial.
*      Mengetahui kurikulum teknologi.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    KURIKULUM SUBJEK AKADEMIS
Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Semua ilmu-ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir pada masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu tersebut. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan atau disiapkan oleh guru. Isi pendidikan diambil dari setiap disiplin ilmu. Para pengembang kurikulum tidak perlu susah-susah menyusun dan mengembangkan bahan sendiri. Meraka tinggal memilih bahan materi ilmu yang telah dikembangkan para ahli disiplin ilmu, kemudian mereorganisasinya secara sistematis, sesuai dengan tujuan pendidikan dan tahap perkembangan siswa yang akan mempelajarinya. Kurikulum subjek akademis tidak berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam perkembangannya secara berangsur memperhatikan proses belajar yang dilakukan siswa. Proses belajar dipilih sangat bergantung pada segi apa yang dipentingkan dalam materi pelajaran tersebut. 
Ciri-ciri kurikulum subjek akademis :
Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”. Metode yang paling banyak digunakan dalam kurikulum subjek akademis adalah metode ekspositori dan inkuiri. Ada beberapa pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis, yaitu : correlated curriculum, unified atau concentrated curriculum, integrated curriculum, dan problem solving curriculum. Tentang kegiatan evaluasi, kurikulum subjek akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajarannya.

B.     KURIKULUM HUMANISTIK
Kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi (personalized education) yaitu John Dewey dan J.J Rousseau (Romantic Education). Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Mereka berasumsi bahwa anak atau siswa adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan. Mereka percaya bahwa siswa mempunyai potensi, punya kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang. Para pendidik humanis juga berpegang pada konsep Gestalt, bahwa individu atau anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan diarahkan kepeda membina manusia yang utuh bukan saja segi fisik dan intelektual tetapi juga segi sosial dan afektif (emosi, sikap, perasaan, nilai, dll). Pendidikan humanistik menekankan peranan siswa. Pendidikan mereka lebih menekankan bagaimana mengajar siswa (mendorong siswa), dan bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu.
Ciri-ciri kurikulum humanistik : 
Menurut para humanis, kurikulum berfungsi menyediakan pengalaman (pengetahuan) berharga untuk membantu perkembangan pribadi murid. Pengajaran humanistik memfokuskan proses aktualisasi diri (self actualization). Metode guru diharapkan mengembangkan kreasi sendiri. Namun, yang penting guru memahami tujuan dan kegunaan kegiatan yang mereka ciptakan. 
Evaluasi kurikulum humanistik berbeda dengan evaluasi pada umumnya yang lebih menekankan pada hasil akhir atau produk. Sebaliknya, evaluasi kurikulum humanistik lebih memberi penekanan pada proses yang dilakukan.

C.    KURIKULUM REKONSTRUKSI SOSIAL
Kurikulum rekonstruksi sosial berbeda dengan model-model kurikulum lainnya. Pandangan rekonstruksi sosial di dalam kurikulum di mulai sekitar tahun 1920-an Harold Rug mulai melihat dan menyadarkan kawan-kawannya bahwa selama ini terjadi kesenjangan antara kurikulum dan masyarakat. Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema-problema yang dihadapi dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukan terjadi antara upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi dan kerja sama. Kerja sama ini terjadi bukan hanya guru dan siswa, tetapi juga antara siswa dengan siswa, siswa dengan orang-orang di lingkungannya dan dengan sumber belajar lainnya. Melalui interaksi dan kerja sama ini siswa berusaha memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik. Kurikulum rekonstruksi sosial sangat memperhatikan hubungan kurikulum dengan sosial masyarakat dan politik perkembangan ekonomi. Para pendukung kurikulum ini yakin, bahwa permasalahan yang muncul tidak harus diperhatikan oleh “pengetahuan sosial” saja, tetapi oleh setiap disiplin ilmu, termasuk ekonomi, kimia, matematika, dll. Dalam kurikulum ini, guru berperan menghubungkan tujuan peserta didik dengan manfaat lokal, nasional, dan internasional. Kurikulum humanistik menuntut hubungan emosional antara guru dan murid. Guru selain harus mampu menciptakan hubungan yang hangat dengan murid, juga mampu menjadi sumber. Ia harus menciptakan materi yang menarik dan mampu menciptakan situasi yang memperlancar proses belajar. Guru harus memberikan dorongan kepada murid atas dasar saling percaya. Peran mengajar bukan saja dilakukan oleh guru tetapi juga oleh murid. Guru tidak memaksakan sesuatu yang tidak disenangi murid. Kurikulum humanistik menekankan integrasi yaitu kesatuan perilaku bukan saja yang bersifat intelektual tetapi juga emosional dan tindakan dan juga menekankan keseluruhan, kurikulum harus memberikan pengalaman yang menyeluruh bukan pengalaman yang terpenggal-penggal. Pandangan rekonstruksi sosial berkembang karena keyakinannya pada kemapuan manusia untuk membangun dunia yang lebih baik. Juga penekanannya tentang peranan ilmu dalam memecahkan masalah-masalah sosial. .
Ciri-ciri kurikulum rekonstruksi sosial :
Tujuan utama kurikulum rekonstruksi sosial adalah menghadapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi (masalah-masalah masyarakat yang dapat dikaji dalam kurikulum) dan membangun kembali dunia ekonomi politik. Metodenya kooperatif atau kerja sama. Evaluasi dalam kurikulum rekonstruksi sosial mencakup segala hal yang luas yaitu kemampuan peserta didik dalam menyampaikan permasalahan, kemungkinan pemecahan masalah, pendefinisian kembali pandangan mereka tentang dunia, dan kemauan mengambil tindakan atas suatu ide. Di samping itu, peserta didik diharapkan dapat menilai pembelajaran mandiri yang sudah dilakukan untuk melihat apa yang sudah mereka pelajari. 

D.    KURIKULUM TEKNOLOGI
Perkembangan teknologi mempengaruhi setiap bidang dan aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Sejak dahulu teknologi telah diterapkan dalam pendidikan, tetapi yang digunakan adalah teknologi sederhana seperti penggunaan papan tulis dan kapur, pena dan tinta, sabak dan grip, dll. Dewasa ini sesuai dengan tahap perkembangannya yang digunakan adalah teknologi maju, seperti audio dan video cassette, overhead projector, film slide, motion film, komputer, internet, dll. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, di bidang pendidikan berkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya dengan pendidikan klasik yaitu menekankan isi kurikulum, tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut melainkan pada penguasaan kompetensi. Perspektif teknologi sebagai kurikulum ditekankan pada efektivitas program, metode dan material untuk mencapai suatu manfaat dan keberhasilan. Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal dengan teknologi alat (tools technology), sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (system technology).
       Ciri-ciri kurikulum teknologi :
Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan dalam bentuk perilaku. Metode pengajaran bersifat individual dan kelompok. Organisasi bahan ajar, banyak diambil dari berbagai disiplin ilmu yang telah diramu sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan suatu kompetensi. Evaluasi formatif (umpan balik bagi siswa dalam penyempurnaan dan penguasaan suatu satuan pelajaran) dan sumatif (umpan balik bagi siswa pada akhir suatu program atau semester).













BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Kurikulum dapat dikategorikan ke dalam empat kategori umum, yaitu subjek akademis, humanistik, rekonstruksi sosial, dan teknologi. Masing-masing kategori memiliki perbedaan dalam hal apa yang harus diajarkan, oleh siapa diajarkan, kapan dan bagaimana diajarkan.
B.     SARAN
Semua yang berkepentingan dalam pendidikan harus berbenah memperbaiki semua hal yang berkaitan dengan pendidikan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Dan tidak tertinggal oleh bangsa lain.


DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. 2008. Dasar-dasar pengembangan kurikulum. Bandung : PT. Remaja
     Rosdakarya.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2009. Pengembangan kurikulum teori dan praktek.    Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.