BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam
menjalankan misi pendidikan, untuk melihat tingkat atau kadar penguasaan
sahabat terhadap materi pelajaran, nabi SAW juga mengevaluasi
sahabat-sahabatnya. Dengan mengevaluasi sahabat-sahabat, rasulullah mengetahui
kemampuan para sahabat dalam memahami ajaran agamaatau dalam menjalankan tugas.
Untuk melihat hasil pengajaran yang dilaksanakan, rasulullah SAW sering
mengevaluasi hafalan para sahabat dengan cara menyuruh para sahabat membacakan
ayat-ayat al-qur’an dihadapannya dengan membetulkan hafalan dan bacaan mereka
yang keliru. Seorang calon guru nantinya akan benar-benar dituntut
profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik. Di dalam
mengajar nantinya seorang guru dituntut untuk bisa memberikan pendidikan yang
terbaik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Dalam hal
itu, evaluasi pendidikan merupakan salah satu bagian dari kegiatan yang
dilakukan oleh seorang guru untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan
tersebut, dan diantara evaluasi yang dilakukan oleh guru yaitu evaluasi hasil
belajar, dimana evaluasi ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana pengetahuan
dan keterampilan siswa setelah menerima materi dan arahan dari seorang guru.
B. RUMUSAN MASALAH
·
Apa
yang dimaksud Evaluasi Pembelajaran?
·
Apa
saja Prinsip-prinsip Evaluasi Pembelajaran?
·
Apa
saja Pendekatan Evaluasi Pembelajaran?
·
Bagaimana
Metode Pembelajaran Qur’an Hadist?
C. TUJUAN
·
Mengetahui
Pengertian Evaluasi Pembelajaran.
·
Mengetahui
Prinsip-prinsip Evaluasi Pembelajaran.
·
Mengetahui
Pendekatan Evaluasi Pembelajaran.
·
Mengetahui
Metode Pembelajaran Qur’an Hadist.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN EVALUASI PEMBELAJARAN
Evaluasi
adalah Usaha untuk
mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh
tentang proses dan hasil perkembangan yang telah dicapai anak sesuai dengan
kemampuannya. Oemar Hamalik mengartikan Evaluasi sebagai suatu proses
penaksiran terhadap kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan peserta didik,
untuk tujuan pendidikan dan menurut Edwind Wandt berpendapat Evaluasi adalah
suatu tindakan atau proses dalam menentukan nilai sesuatu. Evaluasi
pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan
kriteria tertentu. Proses belajar dan mengajar adalah proses yang bertujuan.
Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki
siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Hasil yang diperoleh dari
penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh karena itu tindakan atau
kegiatan tersebut dinamakan hasil belajar. Dalam menjalankan misi pendidikan,
untuk melihat tingkat atau kadar penguasaan sahabat terhadap materi pelajaran,
nabi SAW juga mengevaluasi sahabat-sahabatnya. Dengan mengevaluasi
sahabat-sahabat, rasulullah mengetahui kemampuan para sahabat dalam memahami
ajaran agamaatau dalam menjalankan tugas. Untuk melihat hasil pengajaran yang
dilaksanakan, rasulullah SAW sering mengevaluasi hafalan para sahabat dengan
cara menyuruh para sahabat membacakan ayat-ayat al-qur’an dihadapannya dengan
membetulkan hafalan dan bacaan mereka yang keliru. Evaluasi juga dapat
dilakukan dengan cara bertanya tentang suatu masalah hukum secara langsung
kepada rasulullah, lalu rasulullah menjawabnya. Rasulullah SAW, juga menguji
kemampuan saat pada waktu akan berangkat perang sebagaimana riwayat berikut.
حدثنا محمد بن عبد الله بن نمير, حدثنا أبى, جدثنا عبد الله, عن نافع, عن ابى عمرقال, عرضنى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم أحد فى القتال, وأنا ابن أربع عشرة, فام يجوني. وعرضني يوم الخندق, وانا بن خمس عشرة سنة, فأجزانى
(رواه البخاري)
Artinya :
menceritakan kepada Muhammad ibn ‘Abdullah ibn Numair, menceritakan kepada kami
ayahku, menceritakan kepada kami ‘Abdullah, dari Nafi’, dari ibn Imar berkata,
“ Rasulullah SAW menguji kemampuanku berperang pada hari perang uhud, ketika
aku berusia empat belas tahun, lalu beliau tidak mengizinkanku, dan beliau
mengujiku kembali pada hari perang khandaq ketika aku berusia lima belas tahun,
lalu beliau mengizinkanku. (HR. Bukhari).
Jika dilihat
dari teori taksonomi Benjamin S. Bloom maka jelaslah bahwa psicological domains
yang dijadikan sasaran evaluasi nabi sebagaimana pelaksdana perintah tuhan
sesuai wahyu yang diturunkan kepada beliau lebih menitik beratkan pada
kemampuan dan kesediaan manusia mengamalkan ajaranNya, dimana faktor
psikomotorik menjadi tenaga penggeraknya. Disamping itu, faktor konatif
(kemauan) juga dijadikan sasarannya (konatif psikomotorik). Adapun sistem
pengukuran (measurement) yang digunakan Nabi sendiri tidak menggunakan sistem
laboratorial seperti dalam dunia ilmu pengetahuan modern sekarang. Namun
prinsip-prinsipnya menunjukkan bahwa sistem maenstrument juga terdapat dalam
hadits nabi.
B. PRINSIP-PRINSIP EVALUASI PEMBELAJARAN
Agar penilaian pendidikan dapat mencapai
sasarannya dalam mengevaluasi pola tingkah laku yang dimaksudkan, maka harus
memperhatikan prinsip-prinsip
berikut:
1. Evaluasi harus dilaksanakan secara kontinyu
Evaluasi harus
dilaksanakan secara kontinyu artinya evaluasi harusdilaksanakan secara terus
menerus pada masa-masa tertentu. Hal ini dimaksudkan agar penilai memperoleh kepastian atau kemantapan
dalam mengevaluasi. Bila ditinjau dari kapan atau di mana kita harus mengadakan
evaluasi,dan dimaksudkan untuk apa evaluasi tersebut diadakan dalam keseluruhan
proses pendidikan, maka evaluasi meliputi :
a. Evaluasi formatif
yaitu penilaian yang dilakukan selama dalam perkembangan dan proses pelaksanaan
pendidikan. Karena itu evaluasi formatif dikenal juga dengan evaluasi proses. Tujuan evaluasi formatif
ialah agar secara tepat dan
cepat dapat
membetulkan setiap proses pelaksanaan yang tidak sesuai dengan rencana.
b. Evaluasi sumatif
yaitu evaluasi yang dilakukan pada akhir pelaksanaan proses pendidikan. Evaluasi ini disebut evaluasi
terhadap hasil pendidikan yang telah
dilakukan oleh siswa atau evaluasi produk.
2. Evaluasi harus dilaksanakan secara komprehensif
Evaluasi yang
mampu memahami keseluruhan aspek pola tingkahlaku yang diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan adalah
makna evaluasi secara komprehensif Untuk
dapat melaksanakan evaluasi secara komprehensif maka setiap tujuan pendidikan haru dijabarkan sejelas mungkin sehingga dapat dijadikan pedoman untuk melakukan pengukuran.
Pengukuran di sini harus mampu mencerminkan
butir-butir soal yang representatif terhadap tujuan pendidikan yang telah dijabarkan secara tuntas.
3. Evaluasi harus dilaksanakan secara obyektif
Pelaksanaan evaluasi harus obyektif artinya dalam
proses penilaian hanya menunjuk
pada aspek-aspek yang dinilai sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Jadi dalam menilai hasil pendidikan,
penilai tidak boleh memasukkan
faktor-faktor
subyektif dalam memberikan nilai kepada siswa. Dengan kata lain, evaluasi dikatakan obyektif apabila penilai dalam
memberikan penilaian terhada
suatu obyek hanya
ada satu interpretasi.
4. Dalam melaksanakan evaluasi harus menggunakan alat pengukur yang baik.
Agar evaluasi yang
dilaksanakan itu obyektif, diperlukan informasi atau bahan yan relevan. Untuk memperoleh informasi atau bahan
yang relevan diperlukan alat
pengukur atau instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan ataumemenuhi syarat.
Alat pengukur yang baik adalah alat pengukur yang memenuhi persyaratan a). validitas, b). reliabilitas, dan c).
daya pembeda.
a. Alat pengukur
harus valid
Validitas alat
pengukur ialah kadar ketelitian alat pengukur untuk dapat memenuhi fungsinya dalam menggambarkan keadaan
aspek yang diukur dengan tepat dan teliti.
Sesuai dengan pengertian tersebut Sutrisno Hadi (1997) juga mengemukakan bahwa mengenai masalah validitas
ada dua unsur yang tidak dapat dipisahkan
yaitu kejituan dan ketelitian. Jadi sesuai dengan pengertian validitas tersebut di atas ada dua macam problem
validitas yaitu:
1) Problem kejituan
atau ketepatan
Suatu alat
pengukur dikatakan jitu atau tepat bila ia dengan jitu mengena pada sasarannya. Atau dengan kata lain seberapa
jauh suatu alat pengkur dapat
mengungkap dengan
jitu gejala atau bagian-bagian gejala yang hendak diukur. Dengan demikian alat pengukur dianggap memiliki
kejituan apabila alat pengukur
tersebut dapat
mengerjakan dengan tepat fungsi yang diserahkan kepadanya, fungsi apa alat itu dipersiapkan.
2) Problem ketelitian
Suatu alat
pengukur dikatakan teliti jika ia mampu dengan cermat menunjukkan ukuran besar-kecilnya gejala atau bagian-bagian
gejala yang diukur. Dengan kata lain seberapa jauh alat pengukur dapat memberikan "reading"
yang teliti, dapat menunjukkan denga sebenamya status atau keadaan gejala atau bagian-bagian
gejala yang diukur, misaInya meteran dapat dikatakan teliti jika suatu benda
yang panjangnya 10 meter ia katakan 10 meter, bukan kurang atau lebih dari 10
meter.
b. Alat pengukur halus
reliabel
Pembicaraan
reliabilitas alat pengukur berdasar pada seberapa jauh suatu alat pengukur
dapat menunjukkan kestabilan, kekonstanan, atau keajegan hasil pengukuran. Suatu alat pengukur dikatakan reliabel
bila alat pengukur tersebut dikenakan terhadap
subyek yang sama tetapi pada saat yang berlainan atau kalau orang yang
memberikan alat pengukur itu berbeda hasilnya akan tetap sama. Sebagai contoh suatu meteran yang dipergunakan untuk
mengukur panjang suatu benda. Meteran
tersebut dapat dikatakan reliabel bila ia dipergunakan untuk mengukur benda (X) menunjukkan hasil yang sama
walaupun saat pengukurannya berbeda dan orang
yang melakukan pengukuran juga berbeda.
c. Alat pengukur
harus memiliki daya pembeda (diskriminatif)
Daya pembeda atau "discriminating
power" soal adalah seberapa jauh suatu butir soal
mampu membedakan tentang keadaan aspek yang diukur apabila keadaannya memang berbeda. Misalnya tes hasil
belajar dapat diketahui daya
pembedanya bila
tes tersebut mampu membedakan antara dua orang atau lebih yang memang memiliki kemampuan belajar yang
berbeda. Dengan kata lain tes
yang baik harus
dapat membedakan kemamapuan anak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Suatu butir soal
yang sangat sukar, sehingga semua siswa tidak dapat mengerjakannya dengan benar, berarti butir soal
tersebut tidak memiliki daya
pembeda. Begitu
pula sebaliknya butir soal yang sangat mudah sehingga semua siswa dapat mengerjakan dengan benar, butir soal
tersebut juga tidak memiliki
daya pembeda. Di samping ketiga
syarat pokok alat pengukur yang baik di atas, masih ada syarat lain yaitu alat pengukur harus
komprehensif, obyektif, terstandar, dan praktis.
C.
PENDEKATAN
PENILAIAN MENURUT KURIKULUM 2013
Menurut Kurikulum 2013, penilaian yang dilakukan harus
menggunakan pendekatan-pendekatan berikut:
Dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 pada aspek
penilaiannya, maka semua kompetensi perlu dinilai dengan menggunakan acuan
patokan berdasarkan pada indikator hasil belajar. Sekolah terlebih dahulu harus
menetapkan acuan patokan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Ketuntasan belajar menurut kurikulum 2013 ditentukan sebagai
berikut:

D.
METODE EVALUASI DAN PENILAIAN AL-QURAN HADITS
A. Jenis-jenis
Evaluasi dalam pembelajaran Al-quran Hadits
Jenis evaluasi dapat digolongkan
sebagai berikut:
1.
Penilaian formatif, yaitu penilaian yang dilakukan
pada setiap akhir pembelajaran
2.
Penilaian sumatif, yaitu penilaian yang dilakukan
tiap semester
3.
Penilaian penempatan, berfungsi untuk menempatkan
siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat
4.
Penilaian diagnosa,
berfungsi untuk memecahkan masalah atau kesulitan belajar siswa
B. Metode
Penilaian dalam Pembelajaran Al-quran Hadits
Metode penilaian disekolah dalam
pembelajaran Al-quran Hadits dapat berbentuk, antara lain:
1.
Tes tulis
Penilaian ini digunakan untuk
mengukur kemampuan kognitif siswa dalam memahami materi Quran Hadits.
2.
Penilaian
kinerja
Penilaian kinerja dapat diarahkan
pada:
3.
Portofolio
Penilaian ini ditujukan untuk
mengukur kemampuan kreatifitas dibidang seni kaligrafi
4.
Sikap /
Performence
Penilaian ini dapat dilakukan pada
waktu siswa melaksanakan pembacaan Ai-quran ( cara membacanya, duduknya, dan
sebagainya )
Pada umumnya, untuk menilai hasil
belajar siswa disekolah, guru mempergunakan bermacam-macam bentuk. Akan tetapi
observasi memegang peranan penting sebagai alat evaluasi.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1.
Evaluasi
pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan
kriteria tertentu. Proses belajar dan mengajar adalah proses yang bertujuan.
Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki
siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Hasil yang diperoleh dari
penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh karena itu tindakan atau
kegiatan tersebut dinamakan hasil belajar.
2.
Adapun
sistem pengukuran (measurement) yang digunakan nabi sendiri tidak menggunakan
sistem laboratorial seperti dalam dunia ilmu pengetahuan modern sekarang. Namun
prinsip-prinsipnya menunjukkan bahwa sistem maenstrument juga terdapat dalam hadits
nabi. Nabi melakukan pengukuran terhadap prilaku manusia dengan memberikan
penjelasan tentang tanda-tanda seseorang yang beriman, misalnya mencintai
saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, ketika menyaksikan perbuatan
mungkar, ia berusaha mengubah dengan kekuatan fisiknya, lisannya atau dengan
hatinya.
3.
Menurut Kurikulum 2013, penilaian
yang dilakukan harus menggunakan pendekatan-pendekatan, Pendekatan Acuan
Patokan dan Pendekatan Ketuntasan Belajar.
4.
Jenis-jenis Evaluasi dalam pembelajaran Al-quran Hadits digolongkan
menjadi penilaian formatif, sumatif, penempatan dan diagnosa. Metode
penilaian disekolah dalam pembelajaran Al-quran Hadits dapat berbentuk, yaitu
Tes Tulis, Penilaian Kerja, Portofolio dan sikap/ performance.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Khozim,
Ahmad. 2014. Hadist Tarbawi. Cirebon: STAI Bunga Bangsa Cirebon
Widiantari,
Dian. Modul Pembelajaran Psikologi Pendidikan.
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/12/Penilaian-hasil-belajar-Kurikulum-2013.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar