Selasa, 15 September 2015

Makalah Evaluasi Pembelajaran



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Dalam menjalankan misi pendidikan, untuk melihat tingkat atau kadar penguasaan sahabat terhadap materi pelajaran, nabi SAW juga mengevaluasi sahabat-sahabatnya. Dengan mengevaluasi sahabat-sahabat, rasulullah mengetahui kemampuan para sahabat dalam memahami ajaran agamaatau dalam menjalankan tugas. Untuk melihat hasil pengajaran yang dilaksanakan, rasulullah SAW sering mengevaluasi hafalan para sahabat dengan cara menyuruh para sahabat membacakan ayat-ayat al-qur’an dihadapannya dengan membetulkan hafalan dan bacaan mereka yang keliru. Seorang calon guru nantinya akan benar-benar dituntut profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik. Di dalam mengajar nantinya seorang guru dituntut untuk bisa memberikan pendidikan yang terbaik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Dalam hal itu, evaluasi pendidikan merupakan salah satu bagian dari kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan tersebut, dan diantara evaluasi yang dilakukan oleh guru yaitu evaluasi hasil belajar, dimana evaluasi ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana pengetahuan dan keterampilan siswa setelah menerima materi dan arahan dari seorang guru.  
B.     RUMUSAN MASALAH
·         Apa yang dimaksud Evaluasi Pembelajaran?
·         Apa saja Prinsip-prinsip Evaluasi Pembelajaran?
·         Apa saja Pendekatan Evaluasi Pembelajaran?
·         Bagaimana Metode Pembelajaran Qur’an Hadist?
C.    TUJUAN
·         Mengetahui Pengertian Evaluasi Pembelajaran.
·         Mengetahui Prinsip-prinsip Evaluasi Pembelajaran.
·         Mengetahui Pendekatan Evaluasi Pembelajaran.
·         Mengetahui Metode Pembelajaran Qur’an Hadist.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN EVALUASI PEMBELAJARAN
Evaluasi adalah Usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil perkembangan yang telah dicapai anak sesuai dengan kemampuannya. Oemar Hamalik mengartikan Evaluasi sebagai suatu proses penaksiran terhadap kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan peserta didik, untuk tujuan pendidikan dan menurut Edwind Wandt berpendapat Evaluasi adalah suatu tindakan atau proses dalam menentukan nilai sesuatu. Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Proses belajar dan mengajar adalah proses yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Hasil yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh karena itu tindakan atau kegiatan tersebut dinamakan hasil belajar. Dalam menjalankan misi pendidikan, untuk melihat tingkat atau kadar penguasaan sahabat terhadap materi pelajaran, nabi SAW juga mengevaluasi sahabat-sahabatnya. Dengan mengevaluasi sahabat-sahabat, rasulullah mengetahui kemampuan para sahabat dalam memahami ajaran agamaatau dalam menjalankan tugas. Untuk melihat hasil pengajaran yang dilaksanakan, rasulullah SAW sering mengevaluasi hafalan para sahabat dengan cara menyuruh para sahabat membacakan ayat-ayat al-qur’an dihadapannya dengan membetulkan hafalan dan bacaan mereka yang keliru. Evaluasi juga dapat dilakukan dengan cara bertanya tentang suatu masalah hukum secara langsung kepada rasulullah, lalu rasulullah menjawabnya. Rasulullah SAW, juga menguji kemampuan saat pada waktu akan berangkat perang sebagaimana riwayat berikut.

حدثنا محمد بن عبد الله بن نمير, حدثنا أبى, جدثنا عبد الله, عن نافع, عن ابى عمرقال, عرضنى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم أحد فى القتال, وأنا ابن أربع عشرة, فام يجوني. وعرضني يوم الخندق, وانا بن خمس عشرة سنة, فأجزانى
 (رواه البخاري)

Artinya : menceritakan kepada Muhammad ibn ‘Abdullah ibn Numair, menceritakan kepada kami ayahku, menceritakan kepada kami ‘Abdullah, dari Nafi’, dari ibn Imar berkata, “ Rasulullah SAW menguji kemampuanku berperang pada hari perang uhud, ketika aku berusia empat belas tahun, lalu beliau tidak mengizinkanku, dan beliau mengujiku kembali pada hari perang khandaq ketika aku berusia lima belas tahun, lalu beliau mengizinkanku. (HR. Bukhari).
Jika dilihat dari teori taksonomi Benjamin S. Bloom maka jelaslah bahwa psicological domains yang dijadikan sasaran evaluasi nabi sebagaimana pelaksdana perintah tuhan sesuai wahyu yang diturunkan kepada beliau lebih menitik beratkan pada kemampuan dan kesediaan manusia mengamalkan ajaranNya, dimana faktor psikomotorik  menjadi tenaga penggeraknya. Disamping itu, faktor konatif (kemauan) juga dijadikan sasarannya (konatif psikomotorik). Adapun sistem pengukuran (measurement) yang digunakan Nabi sendiri tidak menggunakan sistem laboratorial seperti dalam dunia ilmu pengetahuan modern sekarang. Namun prinsip-prinsipnya menunjukkan bahwa sistem maenstrument juga terdapat dalam hadits nabi.

B.     PRINSIP-PRINSIP EVALUASI PEMBELAJARAN
Agar penilaian pendidikan dapat mencapai sasarannya dalam mengevaluasi pola tingkah laku yang dimaksudkan, maka harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1.      Evaluasi harus dilaksanakan secara kontinyu
Evaluasi harus dilaksanakan secara kontinyu artinya evaluasi harusdilaksanakan secara terus menerus pada masa-masa tertentu. Hal ini dimaksudkan agar penilai memperoleh kepastian atau kemantapan dalam mengevaluasi. Bila ditinjau dari kapan atau di mana kita harus mengadakan evaluasi,dan dimaksudkan untuk apa evaluasi tersebut diadakan dalam keseluruhan proses pendidikan, maka evaluasi meliputi :
a.       Evaluasi formatif yaitu penilaian yang dilakukan selama dalam perkembangan dan proses pelaksanaan pendidikan. Karena itu evaluasi formatif dikenal juga dengan evaluasi proses. Tujuan evaluasi formatif ialah agar secara tepat dan cepat dapat membetulkan setiap proses pelaksanaan yang tidak sesuai dengan rencana.
b.      Evaluasi sumatif yaitu evaluasi yang dilakukan pada akhir pelaksanaan proses pendidikan. Evaluasi ini disebut evaluasi terhadap hasil pendidikan yang telah dilakukan oleh siswa atau evaluasi produk.

2.      Evaluasi harus dilaksanakan secara komprehensif
Evaluasi yang mampu memahami keseluruhan aspek pola tingkahlaku yang diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan adalah makna evaluasi secara komprehensif Untuk dapat melaksanakan evaluasi secara komprehensif maka setiap tujuan pendidikan haru dijabarkan sejelas mungkin sehingga dapat dijadikan pedoman untuk melakukan pengukuran. Pengukuran di sini harus mampu mencerminkan butir-butir soal yang representatif terhadap tujuan pendidikan yang telah dijabarkan secara tuntas.

3.      Evaluasi harus dilaksanakan secara obyektif
Pelaksanaan evaluasi harus obyektif artinya dalam proses penilaian hanya menunjuk pada aspek-aspek yang dinilai sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Jadi dalam menilai hasil pendidikan, penilai tidak boleh memasukkan faktor-faktor subyektif dalam memberikan nilai kepada siswa. Dengan kata lain, evaluasi dikatakan obyektif apabila penilai dalam memberikan penilaian terhada suatu obyek hanya ada satu interpretasi.

4.      Dalam melaksanakan evaluasi harus menggunakan alat pengukur yang baik.
Agar evaluasi yang dilaksanakan itu obyektif, diperlukan informasi atau  bahan yan relevan. Untuk memperoleh informasi atau bahan yang relevan diperlukan alat pengukur atau instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan ataumemenuhi syarat. Alat pengukur yang baik adalah alat pengukur yang memenuhi persyaratan a). validitas, b). reliabilitas, dan c). daya pembeda.

a.       Alat pengukur harus valid
Validitas alat pengukur ialah kadar ketelitian alat pengukur untuk dapat memenuhi fungsinya dalam menggambarkan keadaan aspek yang diukur dengan tepat dan teliti. Sesuai dengan pengertian tersebut Sutrisno Hadi (1997) juga mengemukakan bahwa mengenai masalah validitas ada dua unsur yang tidak dapat dipisahkan yaitu kejituan dan ketelitian. Jadi sesuai dengan pengertian validitas tersebut di atas ada dua macam problem validitas yaitu:
1)      Problem kejituan atau ketepatan
Suatu alat pengukur dikatakan jitu atau tepat bila ia dengan jitu mengena pada sasarannya. Atau dengan kata lain seberapa jauh suatu alat pengkur dapat mengungkap dengan jitu gejala atau bagian-bagian gejala yang hendak diukur. Dengan demikian alat pengukur dianggap memiliki kejituan apabila alat pengukur tersebut dapat mengerjakan dengan tepat fungsi yang diserahkan kepadanya, fungsi apa alat itu dipersiapkan.
2)      Problem ketelitian
Suatu alat pengukur dikatakan teliti jika ia mampu dengan cermat menunjukkan ukuran besar-kecilnya gejala atau bagian-bagian gejala yang diukur. Dengan kata lain seberapa jauh alat pengukur dapat memberikan "reading" yang teliti, dapat menunjukkan denga sebenamya status atau keadaan gejala atau bagian-bagian gejala yang diukur, misaInya meteran dapat dikatakan teliti jika suatu benda yang panjangnya 10 meter ia katakan 10 meter, bukan kurang atau lebih dari 10 meter.
b.      Alat pengukur halus reliabel
Pembicaraan reliabilitas alat pengukur berdasar pada seberapa jauh suatu  alat pengukur dapat menunjukkan kestabilan, kekonstanan, atau keajegan hasil pengukuran. Suatu alat pengukur dikatakan reliabel bila alat pengukur tersebut dikenakan terhadap subyek yang sama tetapi pada saat yang berlainan atau kalau  orang yang memberikan alat pengukur itu berbeda hasilnya akan tetap sama. Sebagai contoh suatu meteran yang dipergunakan untuk mengukur panjang suatu benda. Meteran tersebut dapat dikatakan reliabel bila ia dipergunakan untuk mengukur benda (X) menunjukkan hasil yang sama walaupun saat pengukurannya berbeda dan orang yang melakukan pengukuran juga berbeda.

c.       Alat pengukur harus memiliki daya pembeda (diskriminatif)
Daya pembeda atau "discriminating power" soal adalah seberapa jauh suatu butir soal mampu membedakan tentang keadaan aspek yang diukur apabila keadaannya memang berbeda. Misalnya tes hasil belajar dapat diketahui daya pembedanya bila tes tersebut mampu membedakan antara dua orang atau lebih yang memang memiliki kemampuan belajar yang berbeda. Dengan kata lain tes yang baik harus dapat membedakan kemamapuan anak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Suatu butir soal yang sangat sukar, sehingga semua siswa tidak dapat mengerjakannya dengan benar, berarti butir soal tersebut tidak memiliki daya pembeda. Begitu pula sebaliknya butir soal yang sangat mudah sehingga semua siswa dapat mengerjakan dengan benar, butir soal tersebut juga tidak memiliki daya pembeda.  Di samping ketiga syarat pokok alat pengukur yang baik di atas, masih ada syarat lain yaitu alat pengukur harus komprehensif, obyektif, terstandar, dan praktis.

C.    PENDEKATAN PENILAIAN MENURUT KURIKULUM 2013
Menurut Kurikulum 2013, penilaian yang dilakukan harus menggunakan pendekatan-pendekatan berikut:
*      Acuan Patokan
Dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 pada aspek penilaiannya, maka semua kompetensi perlu dinilai dengan menggunakan acuan patokan berdasarkan pada indikator hasil belajar. Sekolah terlebih dahulu harus menetapkan acuan patokan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
*      Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar menurut kurikulum 2013 ditentukan sebagai berikut:
Description: Ketuntasan belajar dan konversi nilai menurut Kurikulum 2013



*      Untuk KD pada KI-3 dan KI-4, siswa dapat dikatakan belum tuntas belajar untuk menguasai KD yang dipelajarinya bila menunjukkan indikator nilai < 2.66 dari hasil tes formatif.
*      Untuk KD pada KI-3 dan KI-4, siswa dinyatakan sudah tuntas belajar untuk menguasai KD yang dipelajarinya apabila menunjukkan indikator nilai ≥ 2.66 dari hasil tes formatif.
*      Untuk KD pada KI-1 dan KI-2, ketuntasan siswa dilakukan dengan memperhatikan aspek sikap pada KI-1 dan KI-2 untuk seluruh matapelajaran, yakni jika profil sikap siswa secara umum berada pada kategori baik (B) menurut standar yang ditetapkan satuan pendidikan yang bersangkutan.
D.    METODE EVALUASI DAN PENILAIAN AL-QURAN HADITS
A.    Jenis-jenis Evaluasi  dalam pembelajaran Al-quran Hadits
Jenis evaluasi dapat digolongkan sebagai berikut:
1.      Penilaian formatif, yaitu penilaian yang dilakukan pada setiap akhir pembelajaran
2.      Penilaian sumatif, yaitu penilaian yang dilakukan tiap semester
3.      Penilaian penempatan, berfungsi untuk menempatkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat
4.      Penilaian diagnosa, berfungsi untuk memecahkan masalah atau kesulitan belajar siswa
B.     Metode Penilaian dalam Pembelajaran Al-quran Hadits
Metode penilaian disekolah dalam pembelajaran Al-quran Hadits dapat berbentuk, antara lain:
1.      Tes tulis
Penilaian ini digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa dalam memahami materi Quran Hadits.

2.      Penilaian kinerja
Penilaian kinerja dapat diarahkan pada:
*      Kemampuan mengemukakan pendapat
*      Kemampuan bekerja sama
*      Partisipasi dalam diskusi
*      Kemampuan menanggapi masalah

3.      Portofolio
Penilaian ini ditujukan untuk mengukur kemampuan kreatifitas dibidang seni kaligrafi

4.      Sikap / Performence
Penilaian ini dapat dilakukan pada waktu siswa melaksanakan pembacaan Ai-quran ( cara membacanya, duduknya, dan sebagainya )
Pada umumnya, untuk menilai hasil belajar siswa disekolah, guru mempergunakan bermacam-macam bentuk. Akan tetapi observasi memegang peranan penting sebagai alat evaluasi.











BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Proses belajar dan mengajar adalah proses yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Hasil yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh karena itu tindakan atau kegiatan tersebut dinamakan hasil belajar.
2.      Adapun sistem pengukuran (measurement) yang digunakan nabi sendiri tidak menggunakan sistem laboratorial seperti dalam dunia ilmu pengetahuan modern sekarang. Namun prinsip-prinsipnya menunjukkan bahwa sistem maenstrument juga terdapat dalam hadits nabi. Nabi melakukan pengukuran terhadap prilaku manusia dengan memberikan penjelasan tentang tanda-tanda seseorang yang beriman, misalnya mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, ketika menyaksikan perbuatan mungkar, ia berusaha mengubah dengan kekuatan fisiknya, lisannya atau dengan hatinya.
3.      Menurut Kurikulum 2013, penilaian yang dilakukan harus menggunakan pendekatan-pendekatan, Pendekatan Acuan Patokan dan Pendekatan Ketuntasan Belajar.
4.      Jenis-jenis Evaluasi  dalam pembelajaran Al-quran Hadits digolongkan menjadi penilaian formatif, sumatif, penempatan dan diagnosa. Metode penilaian disekolah dalam pembelajaran Al-quran Hadits dapat berbentuk, yaitu Tes Tulis, Penilaian Kerja, Portofolio dan sikap/ performance.






DAFTAR PUSTAKA
Abdul Khozim, Ahmad. 2014. Hadist Tarbawi. Cirebon: STAI Bunga Bangsa Cirebon
Widiantari, Dian. Modul Pembelajaran Psikologi Pendidikan.
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/12/Penilaian-hasil-belajar-Kurikulum-2013.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar