Sabtu, 03 Oktober 2015

Makalah teori pembelajaran Albert Bandura



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Teori kognitif sosial (social cognitive theory) yang dikemukakan oleh Albert Bandura menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif serta factor pelaku memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif berupa ekspektasi/penerimaan siswa untuk meraih keberhasilan, factor social mencakup pengamatan siswa terhadap perilaku orangtuanya. Albert Bandura merupakan salah satu perancang teori kognitif social. Menurut Bandura ketika siswa belajar mereka dapat merepresentasikan atau mentrasformasi pengalaman mereka secara kognitif. Bandura mengembangkan model deterministic resipkoral yang terdiri dari tiga factor utama yaitu perilaku, person/kognitif dan lingkungan. Faktor ini bisa saling berinteraksi dalam proses pembelajaran. Faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi lingkungan, factor person/kognitif mempengaruhi perilaku. Faktor person Bandura tak punya kecenderungan kognitif terutama pembawaan personalitas dan temperamen. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi pemikiran dan kecerdasan.
Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteksinteraksi timbale balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar social jenis ini.

B.     RUMUSAN MASALAH
·         Siapa Albert Bandura?
·         Bagaimana Teori Belajar menurut Albert Bandura?
·         Apa saja Jenis-Jenis Peniruan?
·         Bagaimnana Aplikasi Teori Belajar Albert Bandura dan Bagaimana Penerapan Teori Tersebut Pada Pembelajaran PAI?


BAB II
PEMBAHASAN
ALBERT BANDURA
A.    BIOGRAFI
            Albert Bandura dilahirkan pada tanggal 4 Desember 1925 di MondereAlberta, Canada. Dia memperoleh gelar Master di bidang psikologi pada tahun 1951 dan setahun kemudian ia juga meraih gelar doktor (Ph.D). Setahun setelah lulus, ia bekerja di Standford University.  Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory), salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Albert Bandura menjabat sebagai ketua APA pada tahun 1974 dan pernah dianugerahi penghargaan Distinguished Scientist Award pada tahun 1972.

B.     TEORI BELAJAR ALBERT BANDURA
Albert Bandura  yang oleh banyak ahli dianggap sebagai seorang behavioris masa kini yang moderat. Salah satu asumsi awal dan dasar teori kognisi sosial Bandura adalah bahwa manusia cukup fleksibel dan mampu mempelajari berbagai sikap, kemampuan, dan perilaku, serta cukup banyak dari pembelajaran tersebut yang merupakan hasil dari pengalaman tidak langsung. Tidak seperti  rekan-rekannya  sesama penganut  aliran behaviorisme, Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus  (S-R bond) melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.
Menurut aliran behaviorisme, setiap siswa lahir tanpa warisan/pembawaan apa-apa dari orang tuanya, dan belajar adalah kegiatan refleks-refleks jasmani terhadap stimulus yang ada   (S-R theory) serta tidak ada hubungannya dengan bakat dan kecerdasan atau warisan/ pembawaan.
            Menurut aliran kognitif, setiap siswa lahir dengan bakat dan kemampuan mentalnya sendiri. Faktor bawaan ini memungkinkan siswa untuk menentukan merespon atau tidak terhadap stimulus, sehingga belajar tidak bersifat otomatis seperti robot.
            Pendekatan teori sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada perlunya  conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).
·         Conditioning,prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku sosial dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan reward (ganjaran/memberi hadiah atau mengganjar) dan punishment (hukuman/ memberi hukuman) untuk senantiasa berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu ia perbuat.
·         Imitation, proses imitasi atau peniruan. Dalam hal ini, orang tua dan guru seyogianya memainkan peran penting sebagai seorang model atau tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi siswa. Sebagai contoh, seorang siswa mengamati gurunya sendiri menerima seorang tamu, lalu menjawab salam, menjabat tangan, beramah tamah, dan seterusnya yang dilakukan guru tersebut diserap oleh memori siswa.
Semakin piawai dan berwibawa seorang model, semakin tinggi pula kualitas imitasi perilaku sosial dan moral siswa tersebut. Mengimitasi model merupakan elemen paling penting dalam hal bagaimana si anak belajar bahasa, berhadapan dengan agresi, mengembangkan perasaan moral dan belajar perilaku yang sesuai dengan gendernya.
Analisis perilaku terapan (applied behaviour analysis) merupakan kombinasi dari pengkondisian dan modeling, yang dapat membantu menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan secara sosial.
Definisi belajar pada asasnya ialah tahapan perubahan perilaku siswa yang relative positif dan menetap ssebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa.
Belajar memiliki arti penting bagi siswa dalam :
a.       Melaksanakan kewajiban keagamaan.
b.      Meningkatkan derajat kehidupan.
c.       Mempertahankan dan mengembangkan kehidupan.

Teori pembelajaran terbaru Bandura disebut dengan teori kognitif sosial. Perubahan dari satu nama ke nama yang lain ini merefleksikan meningkatnya penekanan Bandura atas respon kognitif terhadap persepsi sebagai sesuatu yang mendasar dalam perkembangan.
Sementara itu, beberapa fase teori belajar sosial, diantaranya :
1)      Fase Memperhatikan (attentional phase)
Fase ini merupakan dasar dari suatu proses pengamatan. Tidak adanya perhatian yang terpusat, sulit bagi individu untuk melakukan pengamatan dan pembelajaran secara intensif. Berkembangnya perhatian individu terhadap suatu obyek berkaitan dengan daya ingatnya. Bagi remaja tertarik dan menaruh perhatian terhadap perilaku model tertentu, karena model tersebut dipandangnya sebagai yang hebat, unggul, berkuasa, anggun, berwibawa. Selain itu, berkembangnya perhatian oleh adanya kebutuhan dan minat pribadi. Untuk menarik perhatian para peserta didik, guru dapat mengekspresikan suara dengan intonasi khas ketika menyajikan pokok materi atau bergaya dengan mimik tersendiri ketika menyajikan contoh perilaku tertentu. Semakin erat hubungannya antara kebutuhan dan minat dengan perhatian, semakin kuat daya tariknya terhadap perhatian tersebut dan demikian pula sebaliknya.

2)      Fase Menyimpan (retention phase )
Setelah fase memperhatikan, seorang individu akan memperlihatkan tingkah laku yang sama dengan model tersebut ini berarti individu mengingat dan menyimpan stimulus yang diterimanya dalam bentuk simbol-simbol. Menurut Bandura bentuk-bentuk simbol tersebut tidak hanya diperoleh melalui pengamatan visual, tetapi juga verbalisasi. Pada anak-anak yang kekayaan verbalnya terbatas, maka kemampuan menirunya terbatas pada kemampuan untuk melakukan simbolisasi melalui pengamatan visual.

3)      Fase Mereproduksi (reproduction phase)
Pada tahap reproduksi, segala bayangan/citra mental (imagery) atau kode-kode simbolis yang berisi informasi pengetahuan dan perilaku yang telah tersimpan dalam memori para peserta didik itu diproduksi kembali. Untuk mengidentifikasi tingkat penguasaan para peserta didik, guru dapat menyuruh mereka membuat atau melakukan lagi apa-apa yang telah mereka serap misalnya dengan menggunakan sarana post-test.

4)      Fase Motivasi (motivation phase)
Tahap terakhir dalam proses terjadinya peristiwa atau perilaku belajar adalah tahap penerimaan dorongan yang berfungsi sebagai reinforcement ‘penguatan’ bersemayamnya segala informasi dalam memori para peserta didik. Pada tahap ini, guru dianjurkan untuk memberi pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada para peserta didikyang berkinerja memuaskan. Sementara itu, kepada mereka yang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan arti penting penguasaan materi atau perilaku yang disajikan model (guru) bagi kehidupan mereka. Seiring dengan upaya ini ada baiknya ditunjukkan bukti-bukti kerugian orang yang tidak menguasai materi atau perilaku tersebut.

C.    JENIS-JENIS PENIRUAN (MODELLING)
1.      Peniruan Langsung.
Pembelajaran langsung dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran social Albert Bandura. Ciri khas pembelajaran ini adalah adanya modeling, yaitu suatu fase dimana seseorang memodelkan atau mencontohkan sesuatu melalui demonstrasi bagaimana suatu ketrampilan itu dilakukan. Meniru tingkah laku yang ditunjukkan oleh model melalui proses perhatian. Contoh :Meniru gaya penyanyi yang disukai.
2.      Peniruan Tak Langsung.
Peniruan Tak Langsung adalah melalui imaginasi atau perhatian secara tidak langsung. Contoh : Meniru watak yang dibaca dalam buku, dan memperhatikan seorang guru mengajarkan rekannya.
3.      Peniruan Gabungan.
Peniruan jenis ini adalah dengan cara menggabungkan tingkah laku yang berlainan yaitu peniruan langsung dan tidak langsung. Contoh : Pelajar meniru gaya gurunya melukis dan cara mewarnai dari pada buku yang dibacanya.
4.      Peniruan Sesaat / seketika.
Tingkah laku yang ditiru hanya sesuai untuk situasi tertentu saja. Contoh : Meniru Gaya Pakaian di TV, tetapi tidak boleh dipakai di sekolah.
5.      Peniruan Berkelanjutan.
Tingkah laku yang ditiru boleh ditonjolkan dalam situasi apapun. Contoh : Pelajar meniru gaya bahasa gurunya.

D.    APLIKASI TEORI BELAJAR SOSIAL ALBERT BANDURA
Contoh aplikasi teori belajar Bandura adalah ketika seorang anak belajar untuk mengendarai sepeda. Ditahap perhatian, si anak akan tertarik mengamati para pengendara sepeda dibanding dengan orang yang melakukan aktifitas lain yang diaanggap kurang menarik. Oleh karena itu, ia akan mengamati bagaimana seseorang mengayuh sepeda. Selanjutnya pada tahap penyimpanan dalam ingatan si anak akan tersimpan bahwa bersepeda itu menyenangkan dan suatu saat jika waktunya tepat ia akan meminta ayahnya (semisal) untuk mengajarinya mengendarai sepeda. Semuanya itu kemudian dilaksanakan pada tahap reproduksi di mana si anak kemudian benar-benar belajar mengendarai sepeda bersama sang ayah. Ketika anak itu sudah berhasil, di sinilah tugas sang ayah untuk memberi reward sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan sang anak sekaligus merupakan tahap motivasi.
E.     PENERAPAN PADA PEMBELAJARAN PAI
Penerapan teori Albert Bandura pada pembelajaran PAI sangat cocok, karena seperti yang kita ketahui bahwa dalam Islam keteladanan tertinggi ada pada Nabi Muhammad SAW dialah yang menjadi panutan dan suri teladan bagi kaum muslimin seluruhnya. Segala sikap dan tingkah laku kaum muslimin pastilah harus mengikuti sikap dan perilaku beliau, maka mengikuti apa-apa yang datang dari Nabi saw. adalah termasuk ibadah dan mengandung pahala. Hal ini tidak lain karena Allah telah menetapkan agar Rasul-Nya selalu menjadi contoh yang baik dan karena Allahlah yang telah mendidiknya dengan didikan yang sebaik-baiknya.


ôs)©9tb%x.öNä3s9ÎûÉAqßu«!$#îouqóé&×puZ|¡ym`yJÏj9tb%x.(#qã_ötƒ©!$#tPöquø9$#urtÅzFy$#tx.sŒur©!$##ZŽÏVx.ÇËÊÈ
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Dengan demikian keteladanan menjadi sarana pendidikan yang lebih efektif dari sekadar kata-kata perintah kepada anak-anak tanpa adanya contoh nyata dari orang tua. Karena kata-kata perintah tanpa adanya contoh nyata adalah sama dengan omong kosong. Orang tua yang selalu memerintahkan untuk membaca buku, tetapi mereka sendiri dalam kesehariannya tidak sedikit pun memegang, apalagi membaca buku, bukannya membuat anak gemar membaca, melainkan yang terjadi adalah kekecewaan anak terhadap perilaku orang tuanya. Padahal, dengan selalu membaca buku di depan anak-anak, cukuplah membuat anak-anak gemar membaca tanpa harus ada perintah dari orang tua. Demikian juga orang tua yang selalu menyuruh anaknya untuk shalat atau melakukan ibadah lainnya, namun mereka sendiri tidak melakukannya, maka hal ini hanya akan membuat anak-anak mereka menjadi kehilangan contoh yang dapat diikuti dan membuat mereka menjadi bebal (susah diatur).












BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory). Salah satu asumsi awal dan dasar teori kognisi sosial Bandura adalah bahwa manusia cukup fleksibel dan mampu mempelajari berbagai sikap, kemampuan, dan perilaku, serta cukup banyak dari pembelajaran tersebut yang merupakan hasil dari pengalaman tidak langsung. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus  (S-R bond) melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri. Pendekatan teori sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada perlunya  conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).
Teori pembelajaran terbaru Bandura disebut dengan teori kognitif sosial. beberapa fase teori belajar sosial, diantaranya :
1.      Fase Memperhatikan (attentional phase)
2.      Fase Menyimpan (retention phase )
3.      Fase Mereproduksi (reproduction phase)
4.      Fase Motivasi (motivation phase)
Jenis-jenis peniruan (modeling) menurut albert bandura :
1.      Peniruan Langsung.
2.      Peniruan Tak Langsung.
3.      Peniruan Gabungan.
4.      Peniruan Berkelanjutan.
Dalam Islam keteladanan tertinggi ada pada Nabi Muhammad SAW dialah yang menjadi panutan dan suri teladan bagi kaum muslimin seluruhnya Hal ini tidak lain karena Allah telah menetapkan agar Rasul-Nya selalu menjadi contoh yang baik dan karena Allahlah yang telah mendidiknya dengan didikan yang sebaik-baiknya.


DAFTAR PUSTAKA

Haba, Lydia. 2013. Teori Belajar Sosial Albert Bandura. http://psycholocious.blogspot.com/2013/02/teori-belajar-sosial-albert-bandura.html diakses 12 Februari 2015
Nona, Gusti. 2014. Makalah Social Cognitive Theory. http://nonagusti.blogspot.com/2014/04/makalah-social-cognitive-theory-bandura.html diakses12 Februari 2015
Piyuk,Novia Piavia. 2013. Teori Kepribadian Menurut Albert Bandura. http://noviapiaviapiyuk.blogspot.com/2013/05/teori-kepribadian-menurut-albert-bandura.html 11 Februari 2015
Santosa, Lamin. 2012. Teori Belajar Bandura. http://lasminsmansarbg.blogspot.com/2012/07/teori-belajar-bandura.html diakses 12 Februari 2015
Sulaiman. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Cirebon: STAI Bunga Bangsa
Yanto, Budi. 2012. Teori Pembelajaran Sosial dan Implikasinya Dalam Pendidikan. http://www.budhii.web.id/2012/12/teori-pembelajaran-sosial-dan.html diakses 12 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar