Jumat, 16 Oktober 2015

Pendidikan Islam dan Lembaga Alternatifnya



A.    PENDIDIKAN ISLAM DI MASA LALU
Pendidikan dari segi individu ialah pengembangan potensi-potensi pendidikan diri manusia yang terpendam dan tersembunyi. Ini karena manusia mempunyai berbagai bakat dan kemampuan yang mana jika kita bijak menggunakannya, maka akan memberikan keuntungan. H. Horne menegaskan pendidikan ialah proses abadi bagi menyesuaikan perkembangan diri manusia dari segi jasmani, alam, aqliah, kebebasan dan perasaan manusia terhadap Tuhan.
Namun begitu, pendidikan dari kaca mata Islam, Ustadz Uthman al-Muhammady menjelaskan tujuan pendidikan dalam Islam sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran dan Sunnah dan lain-lain sumber muktabar ialah untuk membawa seseorang Muslim atau masyarakat Islam untuk menyerupai dan merealiasasi atau menyadari perkara-perkara yang sebenarnya sama ada dalam akidah, ibadah dan sistem akhlak untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pendidikan Islam menganjurkan kepada penghayatan ilmu, pencernaan ilmu naqliah dan aqliah. Pendidikan Islam bukan hanya menjalankan proses ta`lim tetapi mencakupi proses ta’dib dan tarbiah. Proses ta’dib adalah proses pencernaan adab dengan sifat dalaman dan luaran di samping berfungsi melahirkan keperibadian yang luhur dan jiwa yang murni. Proses tarbiah pula mencakupi segala bentuk latihan imaniah, aqliah, jinsiah, ijtima`iah, jismiah dan ruhiah. Manakala ta`lim pula ialah menyampaikan ilmu berdasarkan ketepatan konsep dengan kehendak ilmu yang diajar.
Pendidikan Islam ini juga melahirkan bukan hanya seorang warganegara yang baik tetapi juga insan yang saleh. Sebagai insan yang saleh ia akan mengenal pasti iman dan kufur antara ma’ruf dan munkar, antara falah dan khusran. Sebagai insan yang saleh juga dirinya mengetahui akan hakikat manusia sebagai hamba Allah dan khalifah yang sentiasa bersifat ridwanallah dan khashiatullah.
Pendidikan islam pada masa lalu terjadi pada lembaga-lembaga yang berupa Kuttab atau maktab, masjid jami’, madrasah, dar al-ilm, ribath, khanqah, zawiyah. Pendidikannya terjadi dalam sistem khalaqah.
Sedangkan obyek pengajarannya yang pertama yaitu Al Qur’an yang meliputi membaca dan menulis serta mempelajari bahasa al Qur’an. Pada masa lalu pendidikan islam yang pernah mencapai kejayaan mampu mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan yang meliputi, ilmu pengetahuan umum dan filsafat, ilmu agama, dan ilmu bahasa. Tiga macam cabang ilmu tersebut sebenarnya tidak perlu dikotomikan, karena asalnya dari satu yaitu dari ayat-ayat Allah.
Tetapi pada perkembangan selanjutnya pendidikan islam mengalami kemunduran yang disebabkan karena antara ilmu yang satu dengan yang lain saling menjatuhkan dan adanya dikotomi ilmu pengetahuan. Bahkan jika kita boleh mengatakan sampai sekarangpun pendidikan islam masih berada dalam masa kejumudan dan kemunduran karena tidak adanya aktifitas penggalian ilmu pengetahuan dari sumbernya secara pasti dan konkrit. Kebanyakan kita hanya mencari dalil-dalil yang cocok untuk digunakan sebagai argumen bagi ilmu atau pendapat yang ditemukan oleh orientalis. Sampai sekarang kita masih melakukan pengislaman terhadap ilmu pengetahuan tersebut.
B.     PENDIDIKAN ISLAM  DI MASA SEKARANG
Jika kita melihat kondisi pendidikan islam sekarang kita dapat melihat pendidikan islam yang terjadi di negara kita, sebelum kita melihat lebih jauh kita uraikan islam yang berkembang dan  terjadi di Indonesia. Islam yang ingin kita kembangkan adalah Islam yang kompatibel dengan modernitas. Karena, kalau kita berbicara masalah modernitas, maka syaratnya adalah memiliki rasionalitas, demokratis dan toleran terhadap perbedaan, berorientasi ke depan (future oriented) dan tidak backward looking (melihat ke belakang). Inilah yang menjadi ciri modernitas. Jadi model keislaman seperti inilah yang seharusnya kita kembangkan melalui lembaga-lembaga pendidikan Islam. Pada masa sekarang hal inilah yang perlu kita kembangkan agar pendidikan islam dapat bersaing dengan yang lainnya.
Yang dimaksud dengan modernisasi adalah, peserta didik dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam harus memiliki kemampuan, keterampilan dan ilmu yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman atau kemoderenan. Misalnya mempunyai keahlian, kepakaran, pemikiran rasional, future oriented dan lain-lain. Integrasi agama dan ilmu kadangkala menyemburkan harapan agar kita dapat menghasilkan output berupa ulama yang saintis dan saintis yang ulama.
Saat ini, pendidikan Islam menghadapi tantangan berat. Dunia pendidikan Islam juga dituntut untuk memberikan kontribusi bagi kemoderenan. Dalam sepuluh atau lima belas tahun belakangan ini, state of affair atau keadaan pendidikan Islam terlihat lebih baik. Sebab pada tingkat dasar, menengah, sampai perguruan tinggi, pendidikan Islam semakin include atau masuk dalam mainstream pendidikan. Kita lihat misalnya, tingkat madrasah sekarang ini, sejak ibtidaiyah sampai aliyah, sudah mengikuti kurikulum nasional. Dengan demikian, aliyah tidak lagi khusus mengaji atau mendalami masalah-masalah keagamaan sebagaimana dulunya. Namun, sudah ada madrasah yang sudah mendirikan jurusan IPA, sosial, vocational, keterampilan dan lain-lain, di luar keberadaan madrasah khusus keagamaan.
Ada dua pendapat tentang pendidikan Islam, yang sudah klasik terdengar. Pendapat pertama sangat menekankan pendidikan agama, dan kedua, berpendapat bahwa lembaga pendidikan Islam harus merespon kemajuan ilmu dan teknologi. Penekanannya adalah bahwa pendidikan agama memang sangat penting. Selama ini, di lingkungan perguruan tinggi Islam semacam IAIN atau UIN, memang mahasiswa diberikan kebebasan untuk memilih jurusan apa pun, baik murni agama semacam al-akhwal al-syahsiyah dan tafsir-hadits maupun jurusan-jurusan umum semacam IT (informasi dan teknologi), ekonomi dan lain sebagainya.
Pendidikan islam pada masa kini sebagaimana disebutkan diatas tadi mengalami berbagai polemik dan masalah yang membutuhkan pemecahan dan solusi. Hendaknya pendidikan islam pada masa kini berorientasi pada tujuan pendidikan yaitu membentuk insan kamil dan juga berusaha membangun pembangunan dalam segala bidang. Dan juga pendidikan islam pada zaman sekarang banyak mendapatkan tantangan dari para orientalis, dan banyak pendidikan yang sistemnya menggunakan sistem barat yang hal itu tidak menghargai nilai-nilai islami.
Pendidikan Islam pada masa mendatang, harus dikaji dan diteropong melalui lensa realitas pendidikan islam di Indonesia yang ada pada hari ini. Melihat kendala yang dihadapi oleh pendidikan nasional, minimal telah terpantul sinar yang juga menggambarkan tentang kondisi pendidikan Islam di Indonesia pada masa kini. Adapun kendala tersebut berupa:
a.       Kurikulum yang belum mantap, terlihat dari beragamnya jumlah presentasi untuk pelajaran umum dan agama pada berbagai sekolah yang berlogo Islam.
b.      Kurang berkualitasnya guru, yang dimaksud disini adalah kurang kesadaran professional, kurang inofatif, kurang berperan dalam pengembangan pendidikan, kurang terpantau.
c.       Belum adanya sentralisasi dan disentralisasi.
d.      Dualisme pengelolaan pendidikan yaitu antara Depag dan Depdikbud.
e.       Sisa-sisa pendidikan penjajahan yang masih ditiru seperti penjurusan dan pemberian gelar.
f.       Kendali yang terlalu ketat pada pendidikan tinggi.
g.      Minimnya persamaan hak dengan pendidikan umum
h.      Minimnya peminat sekolah agama karena dipandang prospeknya tidak jelas.
i.         
C.    PENDIDIKAN ISLAM DI MASA DEPAN
Posisi pendidikan menjadi sebuah kegiatan yang merangkum kepentingan jangka panjang atau masa depan. Jadi membicarakan pendidikan adalah membicarakan masa depan. Dan masa depan selalu mengalami perubahan yang luar biasa.Jauh sebelum ahli pendidikan masa depan Alvin Pufler menegaskan bahwa pendidikan terkait dengan perkembangan masa depan, Rasulullah Muhammad telah bersabda “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka adalah anak generasi zaman berbeda dengan zaman kamu”.
Jadi harus memberikan hal-hal yang terkait dengan pertumbuhan, perubahan, pembaharuan, dan juga hal-hal yang terus berlangsung. Karena hidup itu terus berlangsung, maka menangani pendidikan sebetulnya sama dengan menangani masa depan, memanage masa depan. Oleh karena itu harus terus–menerus diperbaharui, dipertegas dan dipertajam.
Tantangan yang akan dihadapi oleh pendidikan Islam pada masa yang akan datang, menurut Sa’id Ismail Ali, bahwa umat Islam:
1.      Kurang mampu menyeleksi informasi dan teori-teori mana yang maslahat untuk diaplikasi dan mana pula yang tidak.
2.      Gaya hidup hedonis, konsumtif dan fantatif akibat pengaruh era globaliosasi dan era informasi.
3.      Berkiblat dan berbarometer kepada Negara maju secara fisikly padahal terbelakang pada aspek peradaban dan akhlak.

Disamping ketiga tantangan tersebut, terdapat tujuh tantangan lainnya, yaitu:
1.      Mengurangi kesenjangan dalam pemerataan pendidikan, kemiskinan, marginalisasi dan eksklusivitas pendidikan.
2.      Mengukuhkan hubungan yang lebih baik antara pendidikan dan ekonomi setempat (lokal), dan antara pendidikan dengan dunia kerja yang mengglobal.
3.      Mencegah berkembangnya peran dari riset dan pendidikan yang dikendali-kan oleh pasar dan melebarnya kesenjangan teknologi dan ilmu pengetahuan di antara Negara industri dan Negara berkembang.
4.      Menjamin bahwa persyaratan riset Negara berkembang menerima perhatian dan ditunjukkan oleh ilmuwan dan sarjananya.
5.      Mengurangi dampak negatif dari brain drain dari Negara miskin ke Negara kaya, dan dari wilayah tertinggal ke wilayah maju, sebagai pasar untuk siswa yang juga mengglobal.
6.      Mengarahkan dampak dari prinsip-prinsip pemasaran dan perubahan peran dari Negara terhadap pendidikan dan membantu perencanaan dan manajemen pendidikan.
7.      Menggunakan sistem pendidikan tidak hanya untuk memindahkan batang tubuh keilmuan secara umum, tetapi melestarikan berbagai warisan budaya dunia, bahasa seni, gaya hidup di dunia yang semakin menjadi homogen.
Tantangan-tantangan tersebut bila disadari merupakan signal peluang yang menuntut para praktisi pendidikan untuk membuat formula, design, konsep, dan strategi pendidikan menjadi bersaing dalam ruang global yang meliputi tiga dimensi, yaitu ekonomi, politik, dan budaya. Ekonomi, terkait dengan produksi, pertukaran distribusi, dan konsumsi barang dan jasa; politik, terkait dengan distribusi, kekuasaan, pusat kbijakan pengembangan dan lembaga kekuasaan berikut pengawasannya; budaya, terkait dengan social produksi, pertukaran, dan ungkapan bahasa isyarat dan simbol, arti, kepercayaan dan kesukaan, rasa dan nilai.

Beberapa strategi yang perlu dicanangkan untuk memprediksi pendidikan Islam masa depan adalah sebagai berikut.
1.      Strategi sosial politik
Menekankan diperlukannya merinci butir-butir pokok formalisasi ajaran Islam di lembaga-lembaga negara melalui upaya legal formalitas yang terus menerus oleh gerakan Islam terutama melalui sebuah partai secara eklusif khusus bagi umat Islam termasuk kontrol terhadap aparatur pemerintah. Umat Islam sendiri harus mendidik dengan moralitas Islam yang benar dan menjalankan kehidupan islami baik secara individu maupun masyarakat.
2.      Strategi Kultural
Dirancang untuk kematangan kepribadian kaum muslimin dengan memperluas cakrawala pemikiran, cakupan komitmen dan kesadaran mereka tentang kompleksnya lingkungan manusia.
3.      Strategi Sosio cultural
Diperlukan upaya untuk mengembangkan kerangka kemasyarakatan yang menggunakan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam.

D.    LEMBAGA ALTERNATIF PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA

1.      Keluarga
Dalam islam, keluarga dikenal dengan sebutan usrah, nasl, ’ali, dan nasb. Keluarga dapat diperoleh dengan keturunan (anak, cucu), perkawinan (suami istri), persusuan, dan pemerdekaan. Sebagai pendidik anak-anaknya ayah dan ibu mempunyai kewajiban dan memiliki bentuk yang berbeda karena keduanya berbeda kodrat. Pendidikan keluarga ini merupakan pendidikan yang pertama dan utama bagi seorang anak yang membentuk akhlak seorang anak juga.
Anak merupakan amanah Allah bagi kedua orang tuanya. Ia mempunyai jiwa suci dan cemerlang, apabila dididik dan dibiasakan dengan baik sejak kecil. Sebagai pendidikan yang pertama dan utama, pendidikan keluarga dapat mencetak anak mempunyai kepribadian yang kemudian dapat dikembangkan dalam lembaga berikutnya. Motivasi pengabdian keluarga (ayah, ibu ) dalam mendidik anak-anaknya semata-mata demi cinta kasih yang kodrati, sehingga dalam suasana cinta kasih dan kemesraan inilah proses pendidikan berlangsung dengan baik seumur anak dalam tanggungan utama keluarga.
Dalam penanaman pandangan hidup beragama, fase kanak-kanak merupakan fase yang paling baik untuk meresapkan dasar-dasar hidup beragama. Secara umum kewajiban orang tua kepada anaknya tersebut sudah termaktub dalam al Qur’an. Dengan demikian orang tua dituntut untuk menjadi pendidik yang memberikan pengetahuan pada anak-anaknya, serta memberikan sikap ketrampilan yang memadai.
Dasar-dasar pendidikan yang diberikan kepada anak didik dari orang tuanya adalah: dasar pendidikan budi pekerti, dasar pendidikan sosial, dasar pendidikan intelek, dasar pembentukan kebiasaan, dasar pendidikan agama.
2.      TPQ
TPQ merupakan singkatan dari Taman Pendidikan Al Qur’an. Lembaga ini merupakan lembaga lanjutan dari lembaga pendidikan keluarga. Dilembaga ini potensi intelektual dari anak serta potensi yang lainnya dikembangkan. Tempat ini merupakan tempat pembelajaran al Qur’an, agar anak dapat membaca al Qur’an dengan baik dan benar.
Di TPQ anak dididik selain belajar membaca al Qur’an, bermasyarakat dan berteman dengan anak-anak yang lain. Agar seorang anak tidak kurang dalam pergaulan atau agar anak mengerti cara bergaul yang baik dan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Serta anak dapat mengaktifkan logikanya untuk memikirkan apa yang menurutnya baik dan apa yang menurutnya buruk.
TPQ merupakan salah satu lembaga alternatif yang berperan dalam pendidikan selain sekolah resmi. Namun TPQ juga dapat dikategorikan sebagai sekolah. Hanya saja TPQ ini kebanyakan masih bersifat non formal, dan biasanya bergabung dengan pondok pesantren.
3.      Pesantren
Pesantren menurut M Arifin berarti, suatu lembaga pendidikan islam yang tumbuh serta diakui di masyarakat sekitar, dengan sistem asrama (komplek) dimana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian  atau madrasah yang sepenuhnya berada dibawah kedaulatan seorang atau beberapa kiai dengan ciri khas atau kharismatik serta independen dalam segala hal.
Menurut penulis pesantren ialah lembaga tempat pendidikan dan pengajaran yang menekankan pelajaran islam dan didukung dengan asrama tempat tinggal santri yang bersifat permanen. Maka dalam hal ini biasanya digabung dengan pondok, maka menjadi pondok pesantren.
Tujuan pesantren ialah: (1) tujuan umum, yaitu membimbing anak didik menjadi manusia yang berkepribadian islam, (2) tujuan khusus, yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama.
Ada santri yang masuk pesantren untuk mencari ilmu agama, namun juga ada santri yang mondok hanya untuk mencari ekonomis saja. Dan juga ada yang hanya digunakan sebagai tempat kos atau tidur sementara.
Sistem yang dipakai dalam pondok pesantren mempunyai keunikan dibandingkan dengan sistem yang diterapkan dalam lembaga pendidikan islam pada umumnya. Yaitu:
1.      Memakai sistem tradisional, yang memiliki kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah modern.
2.      Kehidupan di pesantren menampakkan semangat demokrasi.
3.      Para santri tidak pernah mengidap penyakit simbolis.
4.      Sistem pondok pesantren mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri, dan keberanian hidup.
5.      Alumni pondok pesantren tak ingin menduduki jabatan pemerintahan. Namun hal ini agak menyimpang dari faktanya.
Model pengajaran yang digunakan dalam pesantren ini adalah model sorogan dan wetonan (pengajian balah). Sedangkan mengenai kitab referensi yang digunakan adalah kitab yang memiliki kriteria kutub al mu’tabarah. Selain itu maka tidak digunakan atau hanya digunakan untuk kalangan tertentu saja. Bai kitab modern maupun salafiyah, hanya perbedaaannya bila kitab modern tidak di adakan pengajian (ma’na gandul).
Metode yang ada dalam pondok selain diatas ialah muhawarah, mudzakarah, majlis ta’lim sampai seminar dan diskusi/musyawarah. Metode ini ditransformasikan ketika merasa bahwa penggunaan metode tradisional tidak cukup. Dalam pesantren biasa ada yang namanya madrasah yang digunakan sebagai pengajaran utama ilmu agama yang terorganisir, dan biasanya pelajarannya berupa pelajaran agama.
Madrasah ini merupakan pembaharuan dalam sistem pesantren dan juga sekarang ini banyak pesantren yang dilengkapi sekolah-sekolah umum agar banyak santri yang masuk. Karena biasanya orientasi santri tersebut pada sekolah umum. Bahkan sekaran ini pesantren ada yang mendirikan universitas sebagai penujang dan penyempurnaan  pembaharuan sebuah pesantren. Hal itu semua untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan yang tidak menentu datangnya dan bentuknya dan dalam rangka penyempurnaan pendidikan islam untuk menatap masa depan.
Tujuan Jenjang Pendidikan Islam
Tujuan Pendidikan Agama Islam Berdasarkan Jenjang Pendidikan
a.        Tujuan untuk jenjang pendidikan MI /SD dan MTS / SLTP meliputi:
1)      Tumbuhnya keimanan dan ketaqwaan dengan mulai belajar Al-Qur’an dan praktek-praktek ibadah secara verbalistik dalam rangka pembiasaan dan upaya penerapannya.
2)      Tumbuhnya sikap beretika melalui keteladanan dan penanaman motifasi.
3)      Tumbuhnya penalaran (mau belajar, ingin tahu senang membaca, memiliki inovasi, dan berinisiatif dan bertanggung jawab).
4)      Tumbuhnya kemampun berkomunikasi sosial.
5)      Tumbuh kesadaran untuk menjaga kesehatan.

b.       Tujuan pendidikan pada jenjang MA/SLTA meliputi:
1)       Tumbuhnya keimanaan dan ketaqwaan dengan memiliki kemampuan baca tulis Al-qur’an dan praktek-praktek ibadah dengan kesadaran dan keikhasan sendiri.
2)       Memiliki etika.
3)       Memiliki penalaran yang baik.
4)       Memiliki kemampuan berkomunikasi sosial.
5)       Dapat mengurus dirinya sendiri.


Tujuan Pendidikan Tingkat Tinggi didalam penguasaan ilmu pendidikan dan kehidupan praktek ibadahnya bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi telah memiliki kemampuan untuk menyebarkan kepada masyarakat dan menjadi teladan bagi mereka
.









BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Memprediksi Pendidikan Islam Indonesia dilihat dari Masa Lalu dan Masa Sekarang sehingga dapat menyimpulkan Pendidikan Islam di Masa Depan.
Pada Masa Lalu Pendidikan Islam lebih menganjurkan kepada penghayatan ilmu, pencernaan ilmu naqliah dan aqliah. Namun, mengalami kemunduran dikarenakan antara ilmu yang satu dengan yang lain saling menjatuhkan dan adanya dikotomi ilmu pengetahuan.
Pada Masa Sekarang Pendidikan Islam dikembangkan dengan Pendidikan  Islam yang kompatibel dengan modernitas maksudnya peserta didik dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam harus memiliki kemampuan, keterampilan dan ilmu yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman atau kemoderenan
Pada Masa Depan Pendidikan Islam akan Memiliki banyak tantangan maka Pendidikan Islam harus menyesuaikan dengan apa yang menjadi tantangan-tantangan yang akan dihadapi.
Lembaga-Lembaga Alternatif dalam Pendidikan Islam Masa Depan yaitu Keluarga, TPQ, dan Pesantren.









DAFTAR PUSTAKA

http://flashcompugraphics.blogspot.com/2013/01/pendidikan-islam-dan-tantangan-masa.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar