A.
PENDIDIKAN
ISLAM DI MASA LALU
Pendidikan
dari segi individu ialah pengembangan potensi-potensi pendidikan diri manusia
yang terpendam dan tersembunyi. Ini karena manusia mempunyai berbagai bakat dan
kemampuan yang mana jika kita bijak menggunakannya, maka akan memberikan
keuntungan. H. Horne menegaskan pendidikan ialah proses abadi bagi menyesuaikan
perkembangan diri manusia dari segi jasmani, alam, aqliah, kebebasan dan
perasaan manusia terhadap Tuhan.
Namun
begitu, pendidikan dari kaca mata Islam, Ustadz Uthman al-Muhammady menjelaskan
tujuan pendidikan dalam Islam sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran dan Sunnah
dan lain-lain sumber muktabar ialah untuk membawa seseorang Muslim atau
masyarakat Islam untuk menyerupai dan merealiasasi atau menyadari
perkara-perkara yang sebenarnya sama ada dalam akidah, ibadah dan sistem akhlak
untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pendidikan
Islam menganjurkan kepada penghayatan ilmu, pencernaan ilmu naqliah dan aqliah.
Pendidikan Islam bukan hanya menjalankan proses ta`lim tetapi mencakupi proses
ta’dib dan tarbiah. Proses ta’dib adalah proses pencernaan adab dengan sifat
dalaman dan luaran di samping berfungsi melahirkan keperibadian yang luhur dan
jiwa yang murni. Proses tarbiah pula mencakupi segala bentuk latihan imaniah,
aqliah, jinsiah, ijtima`iah, jismiah dan ruhiah. Manakala ta`lim pula ialah
menyampaikan ilmu berdasarkan ketepatan konsep dengan kehendak ilmu yang
diajar.
Pendidikan
Islam ini juga melahirkan bukan hanya seorang warganegara yang baik tetapi juga
insan yang saleh. Sebagai insan yang saleh ia akan mengenal pasti iman dan
kufur antara ma’ruf dan munkar, antara falah dan khusran. Sebagai insan yang
saleh juga dirinya mengetahui akan hakikat manusia sebagai hamba Allah dan
khalifah yang sentiasa bersifat ridwanallah dan khashiatullah.
Pendidikan islam pada masa lalu
terjadi pada lembaga-lembaga yang berupa Kuttab atau maktab, masjid jami’,
madrasah, dar al-ilm, ribath, khanqah, zawiyah. Pendidikannya terjadi dalam
sistem khalaqah.
Sedangkan obyek pengajarannya yang
pertama yaitu Al Qur’an yang meliputi membaca dan menulis serta mempelajari
bahasa al Qur’an. Pada masa lalu pendidikan islam yang pernah mencapai kejayaan
mampu mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan yang meliputi, ilmu pengetahuan
umum dan filsafat, ilmu agama, dan ilmu bahasa. Tiga macam cabang ilmu tersebut
sebenarnya tidak perlu dikotomikan, karena asalnya dari satu yaitu dari
ayat-ayat Allah.
Tetapi pada perkembangan selanjutnya
pendidikan islam mengalami kemunduran yang disebabkan karena antara ilmu yang
satu dengan yang lain saling menjatuhkan dan adanya dikotomi ilmu pengetahuan.
Bahkan jika kita boleh mengatakan sampai sekarangpun pendidikan islam masih
berada dalam masa kejumudan dan kemunduran karena tidak adanya aktifitas
penggalian ilmu pengetahuan dari sumbernya secara pasti dan konkrit. Kebanyakan
kita hanya mencari dalil-dalil yang cocok untuk digunakan sebagai argumen bagi
ilmu atau pendapat yang ditemukan oleh orientalis. Sampai sekarang kita masih
melakukan pengislaman terhadap ilmu pengetahuan tersebut.
B.
PENDIDIKAN
ISLAM DI MASA SEKARANG
Jika kita melihat kondisi pendidikan
islam sekarang kita dapat melihat pendidikan islam yang terjadi di negara kita,
sebelum kita melihat lebih jauh kita uraikan islam yang berkembang dan
terjadi di Indonesia. Islam yang ingin kita kembangkan adalah Islam yang
kompatibel dengan modernitas. Karena, kalau kita berbicara masalah modernitas,
maka syaratnya adalah memiliki rasionalitas, demokratis dan toleran terhadap
perbedaan, berorientasi ke depan (future oriented) dan tidak backward looking
(melihat ke belakang). Inilah yang menjadi ciri modernitas. Jadi model
keislaman seperti inilah yang seharusnya kita kembangkan melalui
lembaga-lembaga pendidikan Islam. Pada masa sekarang hal inilah yang perlu kita
kembangkan agar pendidikan islam dapat bersaing dengan yang lainnya.
Yang dimaksud dengan modernisasi
adalah, peserta didik dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam harus memiliki
kemampuan, keterampilan dan ilmu yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman
atau kemoderenan. Misalnya mempunyai keahlian, kepakaran, pemikiran rasional,
future oriented dan lain-lain. Integrasi agama dan ilmu kadangkala menyemburkan
harapan agar kita dapat menghasilkan output berupa ulama yang saintis dan
saintis yang ulama.
Saat ini, pendidikan Islam
menghadapi tantangan berat. Dunia pendidikan Islam juga dituntut untuk
memberikan kontribusi bagi kemoderenan. Dalam sepuluh atau lima belas tahun
belakangan ini, state of affair atau keadaan pendidikan Islam terlihat lebih
baik. Sebab pada tingkat dasar, menengah, sampai perguruan tinggi, pendidikan
Islam semakin include atau masuk dalam mainstream pendidikan. Kita lihat misalnya,
tingkat madrasah sekarang ini, sejak ibtidaiyah sampai aliyah, sudah mengikuti
kurikulum nasional. Dengan demikian, aliyah tidak lagi khusus mengaji atau
mendalami masalah-masalah keagamaan sebagaimana dulunya. Namun, sudah ada
madrasah yang sudah mendirikan jurusan IPA, sosial, vocational, keterampilan
dan lain-lain, di luar keberadaan madrasah khusus keagamaan.
Ada dua pendapat tentang pendidikan
Islam, yang sudah klasik terdengar. Pendapat pertama sangat menekankan pendidikan
agama, dan kedua, berpendapat bahwa lembaga pendidikan Islam harus merespon
kemajuan ilmu dan teknologi. Penekanannya adalah bahwa pendidikan agama
memang sangat penting. Selama ini, di lingkungan perguruan tinggi Islam semacam
IAIN atau UIN, memang mahasiswa diberikan kebebasan untuk memilih jurusan apa
pun, baik murni agama semacam al-akhwal al-syahsiyah dan tafsir-hadits maupun
jurusan-jurusan umum semacam IT (informasi dan teknologi), ekonomi dan lain
sebagainya.
Pendidikan islam pada masa kini
sebagaimana disebutkan diatas tadi mengalami berbagai polemik dan masalah yang
membutuhkan pemecahan dan solusi. Hendaknya pendidikan islam pada masa kini
berorientasi pada tujuan pendidikan yaitu membentuk insan kamil dan juga
berusaha membangun pembangunan dalam segala bidang. Dan juga pendidikan islam
pada zaman sekarang banyak mendapatkan tantangan dari para orientalis, dan
banyak pendidikan yang sistemnya menggunakan sistem barat yang hal itu tidak
menghargai nilai-nilai islami.
Pendidikan Islam pada masa
mendatang, harus dikaji dan diteropong melalui lensa realitas pendidikan islam
di Indonesia yang ada pada hari ini. Melihat kendala yang dihadapi oleh
pendidikan nasional, minimal telah terpantul sinar yang juga menggambarkan
tentang kondisi pendidikan Islam di Indonesia pada masa kini. Adapun kendala
tersebut berupa:
a. Kurikulum yang belum mantap,
terlihat dari beragamnya jumlah presentasi untuk pelajaran umum dan agama pada
berbagai sekolah yang berlogo Islam.
b. Kurang berkualitasnya guru,
yang dimaksud disini adalah kurang kesadaran professional, kurang inofatif,
kurang berperan dalam pengembangan pendidikan, kurang terpantau.
c. Belum adanya sentralisasi dan
disentralisasi.
d. Dualisme pengelolaan
pendidikan yaitu antara Depag dan Depdikbud.
e. Sisa-sisa pendidikan
penjajahan yang masih ditiru seperti penjurusan dan pemberian gelar.
f. Kendali yang terlalu ketat
pada pendidikan tinggi.
g. Minimnya persamaan hak dengan
pendidikan umum
h.
Minimnya peminat sekolah agama karena dipandang prospeknya tidak jelas.
i.
C.
PENDIDIKAN
ISLAM DI MASA DEPAN
Posisi pendidikan menjadi sebuah
kegiatan yang merangkum kepentingan jangka panjang atau masa depan. Jadi
membicarakan pendidikan adalah membicarakan masa depan. Dan masa depan selalu
mengalami perubahan yang luar biasa.Jauh sebelum ahli pendidikan masa depan
Alvin Pufler menegaskan bahwa pendidikan terkait dengan perkembangan masa
depan, Rasulullah Muhammad telah bersabda “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan
zamannya, karena mereka adalah anak generasi zaman berbeda dengan zaman kamu”.
Jadi harus memberikan hal-hal yang
terkait dengan pertumbuhan, perubahan, pembaharuan, dan juga hal-hal yang terus
berlangsung. Karena hidup itu terus berlangsung, maka menangani pendidikan
sebetulnya sama dengan menangani masa depan, memanage masa depan. Oleh karena
itu harus terus–menerus diperbaharui, dipertegas dan dipertajam.
Tantangan yang akan dihadapi oleh pendidikan
Islam pada masa yang akan datang, menurut Sa’id Ismail Ali, bahwa umat Islam:
1.
Kurang mampu
menyeleksi informasi dan teori-teori mana yang maslahat untuk diaplikasi dan
mana pula yang tidak.
2.
Gaya hidup
hedonis, konsumtif dan fantatif akibat pengaruh era globaliosasi dan era
informasi.
3.
Berkiblat
dan berbarometer kepada Negara maju secara fisikly padahal terbelakang pada
aspek peradaban dan akhlak.
Disamping ketiga tantangan tersebut, terdapat
tujuh tantangan lainnya, yaitu:
1.
Mengurangi
kesenjangan dalam pemerataan pendidikan, kemiskinan, marginalisasi dan
eksklusivitas pendidikan.
2.
Mengukuhkan
hubungan yang lebih baik antara pendidikan dan ekonomi setempat (lokal), dan
antara pendidikan dengan dunia kerja yang mengglobal.
3.
Mencegah
berkembangnya peran dari riset dan pendidikan yang dikendali-kan oleh pasar dan
melebarnya kesenjangan teknologi dan ilmu pengetahuan di antara Negara industri dan Negara berkembang.
4.
Menjamin
bahwa persyaratan riset Negara berkembang menerima perhatian dan ditunjukkan
oleh ilmuwan dan sarjananya.
5.
Mengurangi
dampak negatif dari brain drain dari Negara miskin ke Negara kaya, dan
dari wilayah tertinggal ke wilayah maju, sebagai pasar untuk siswa yang juga
mengglobal.
6.
Mengarahkan
dampak dari prinsip-prinsip pemasaran dan perubahan peran dari Negara terhadap
pendidikan dan membantu perencanaan dan manajemen pendidikan.
7.
Menggunakan
sistem pendidikan tidak hanya untuk memindahkan batang tubuh keilmuan secara
umum, tetapi melestarikan berbagai warisan budaya dunia, bahasa seni, gaya
hidup di dunia yang semakin menjadi homogen.
Tantangan-tantangan tersebut bila disadari
merupakan signal peluang yang menuntut para praktisi pendidikan untuk membuat
formula, design, konsep, dan strategi pendidikan menjadi bersaing dalam
ruang global yang meliputi tiga dimensi, yaitu ekonomi, politik, dan budaya.
Ekonomi, terkait dengan produksi, pertukaran distribusi, dan konsumsi barang
dan jasa; politik, terkait dengan
distribusi, kekuasaan, pusat kbijakan pengembangan dan lembaga kekuasaan
berikut pengawasannya; budaya, terkait dengan social produksi, pertukaran, dan
ungkapan bahasa isyarat dan simbol, arti, kepercayaan dan kesukaan, rasa dan
nilai.
Beberapa strategi yang perlu dicanangkan untuk memprediksi pendidikan
Islam masa depan adalah sebagai berikut.
1. Strategi sosial politik
Menekankan diperlukannya merinci butir-butir pokok formalisasi ajaran
Islam di lembaga-lembaga negara melalui upaya legal formalitas yang terus
menerus oleh gerakan Islam terutama melalui sebuah partai secara eklusif khusus
bagi umat Islam termasuk kontrol terhadap aparatur pemerintah. Umat Islam
sendiri harus mendidik dengan moralitas Islam yang benar dan menjalankan
kehidupan islami baik secara individu maupun masyarakat.
2. Strategi Kultural
Dirancang untuk kematangan kepribadian kaum muslimin dengan memperluas
cakrawala pemikiran, cakupan komitmen dan kesadaran mereka tentang kompleksnya
lingkungan manusia.
3. Strategi Sosio cultural
Diperlukan upaya untuk mengembangkan kerangka kemasyarakatan yang
menggunakan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam.
D.
LEMBAGA ALTERNATIF PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA
1.
Keluarga
Dalam islam, keluarga dikenal dengan sebutan usrah,
nasl, ’ali, dan nasb. Keluarga dapat diperoleh dengan keturunan (anak, cucu),
perkawinan (suami istri), persusuan, dan pemerdekaan. Sebagai pendidik
anak-anaknya ayah dan ibu mempunyai kewajiban dan memiliki bentuk yang berbeda
karena keduanya berbeda kodrat. Pendidikan keluarga ini merupakan pendidikan
yang pertama dan utama bagi seorang anak yang membentuk akhlak seorang anak
juga.
Anak merupakan amanah Allah bagi kedua orang tuanya.
Ia mempunyai jiwa suci dan cemerlang, apabila dididik dan dibiasakan dengan
baik sejak kecil. Sebagai pendidikan yang pertama dan utama, pendidikan
keluarga dapat mencetak anak mempunyai kepribadian yang kemudian dapat
dikembangkan dalam lembaga berikutnya. Motivasi pengabdian keluarga (ayah, ibu
) dalam mendidik anak-anaknya semata-mata demi cinta kasih yang kodrati,
sehingga dalam suasana cinta kasih dan kemesraan inilah proses pendidikan
berlangsung dengan baik seumur anak dalam tanggungan utama keluarga.
Dalam penanaman pandangan hidup beragama, fase
kanak-kanak merupakan fase yang paling baik untuk meresapkan dasar-dasar hidup
beragama. Secara umum kewajiban orang tua kepada anaknya tersebut sudah
termaktub dalam al Qur’an. Dengan demikian orang tua dituntut untuk menjadi
pendidik yang memberikan pengetahuan pada anak-anaknya, serta memberikan sikap
ketrampilan yang memadai.
Dasar-dasar pendidikan yang diberikan kepada anak
didik dari orang tuanya adalah: dasar pendidikan budi pekerti, dasar pendidikan
sosial, dasar pendidikan intelek, dasar pembentukan kebiasaan, dasar pendidikan
agama.
2.
TPQ
TPQ merupakan singkatan dari Taman Pendidikan Al
Qur’an. Lembaga ini merupakan lembaga lanjutan dari lembaga pendidikan
keluarga. Dilembaga ini potensi intelektual dari anak serta potensi yang
lainnya dikembangkan. Tempat ini merupakan tempat pembelajaran al Qur’an, agar
anak dapat membaca al Qur’an dengan baik dan benar.
Di TPQ anak dididik selain belajar membaca al Qur’an,
bermasyarakat dan berteman dengan anak-anak yang lain. Agar seorang anak tidak
kurang dalam pergaulan atau agar anak mengerti cara bergaul yang baik dan dapat
membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Serta anak dapat mengaktifkan
logikanya untuk memikirkan apa yang menurutnya baik dan apa yang menurutnya
buruk.
TPQ merupakan salah satu lembaga alternatif yang
berperan dalam pendidikan selain sekolah resmi. Namun TPQ juga dapat
dikategorikan sebagai sekolah. Hanya saja TPQ ini kebanyakan masih bersifat non
formal, dan biasanya bergabung dengan pondok pesantren.
3.
Pesantren
Pesantren menurut M Arifin berarti, suatu lembaga
pendidikan islam yang tumbuh serta diakui di masyarakat sekitar, dengan sistem
asrama (komplek) dimana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem
pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada dibawah kedaulatan seorang
atau beberapa kiai dengan ciri khas atau kharismatik serta independen dalam
segala hal.
Menurut penulis pesantren ialah lembaga tempat
pendidikan dan pengajaran yang menekankan pelajaran islam dan didukung dengan
asrama tempat tinggal santri yang bersifat permanen. Maka dalam hal ini
biasanya digabung dengan pondok, maka menjadi pondok pesantren.
Tujuan pesantren ialah: (1) tujuan umum, yaitu
membimbing anak didik menjadi manusia yang berkepribadian islam, (2) tujuan
khusus, yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu
agama.
Ada santri yang masuk pesantren untuk mencari ilmu
agama, namun juga ada santri yang mondok hanya untuk mencari ekonomis saja. Dan
juga ada yang hanya digunakan sebagai tempat kos atau tidur sementara.
Sistem yang dipakai dalam pondok pesantren mempunyai
keunikan dibandingkan dengan sistem yang diterapkan dalam lembaga pendidikan
islam pada umumnya. Yaitu:
1.
Memakai
sistem tradisional, yang memiliki kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah
modern.
2.
Kehidupan di
pesantren menampakkan semangat demokrasi.
3.
Para santri
tidak pernah mengidap penyakit simbolis.
4.
Sistem
pondok pesantren mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan,
persamaan, rasa percaya diri, dan keberanian hidup.
5.
Alumni
pondok pesantren tak ingin menduduki jabatan pemerintahan. Namun hal ini agak
menyimpang dari faktanya.
Model pengajaran yang digunakan dalam pesantren ini
adalah model sorogan dan wetonan (pengajian balah). Sedangkan mengenai kitab
referensi yang digunakan adalah kitab yang memiliki kriteria kutub al
mu’tabarah. Selain itu maka tidak digunakan atau hanya digunakan untuk kalangan
tertentu saja. Bai kitab modern maupun salafiyah, hanya perbedaaannya bila
kitab modern tidak di adakan pengajian (ma’na gandul).
Metode yang ada dalam pondok selain diatas ialah
muhawarah, mudzakarah, majlis ta’lim sampai seminar dan diskusi/musyawarah.
Metode ini ditransformasikan ketika merasa bahwa penggunaan metode tradisional
tidak cukup. Dalam pesantren biasa ada yang namanya madrasah yang digunakan
sebagai pengajaran utama ilmu agama yang terorganisir, dan biasanya
pelajarannya berupa pelajaran agama.
Madrasah ini merupakan pembaharuan dalam sistem
pesantren dan juga sekarang ini banyak pesantren yang dilengkapi
sekolah-sekolah umum agar banyak santri yang masuk. Karena biasanya orientasi
santri tersebut pada sekolah umum. Bahkan sekaran ini pesantren ada yang
mendirikan universitas sebagai penujang dan penyempurnaan pembaharuan sebuah
pesantren. Hal itu semua untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan
tantangan yang tidak menentu datangnya dan bentuknya dan dalam rangka
penyempurnaan pendidikan islam untuk menatap masa depan.
Tujuan Jenjang Pendidikan Islam
Tujuan
Pendidikan Agama Islam Berdasarkan Jenjang Pendidikan
a.
Tujuan untuk jenjang pendidikan MI /SD dan MTS / SLTP
meliputi:
1)
Tumbuhnya keimanan dan ketaqwaan dengan mulai belajar Al-Qur’an dan
praktek-praktek ibadah secara verbalistik dalam rangka pembiasaan dan upaya penerapannya.
2)
Tumbuhnya sikap beretika melalui keteladanan dan penanaman
motifasi.
3)
Tumbuhnya penalaran (mau belajar, ingin tahu senang membaca,
memiliki inovasi, dan berinisiatif dan bertanggung jawab).
4)
Tumbuhnya kemampun berkomunikasi sosial.
5)
Tumbuh kesadaran untuk menjaga kesehatan.
b.
Tujuan pendidikan pada
jenjang MA/SLTA meliputi:
1)
Tumbuhnya keimanaan dan
ketaqwaan dengan memiliki kemampuan baca tulis Al-qur’an dan praktek-praktek
ibadah dengan kesadaran dan keikhasan sendiri.
2)
Memiliki etika.
3)
Memiliki penalaran yang
baik.
4)
Memiliki kemampuan
berkomunikasi sosial.
5)
Dapat mengurus dirinya
sendiri.
Tujuan Pendidikan Tingkat Tinggi didalam penguasaan ilmu pendidikan dan kehidupan praktek ibadahnya bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi telah memiliki kemampuan untuk menyebarkan kepada masyarakat dan menjadi teladan bagi mereka.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Memprediksi
Pendidikan Islam Indonesia dilihat dari Masa Lalu dan Masa Sekarang sehingga
dapat menyimpulkan Pendidikan Islam di Masa Depan.
Pada Masa Lalu
Pendidikan Islam lebih menganjurkan kepada penghayatan ilmu, pencernaan ilmu
naqliah dan aqliah. Namun, mengalami kemunduran dikarenakan antara ilmu yang
satu dengan yang lain saling menjatuhkan dan adanya dikotomi ilmu pengetahuan.
Pada Masa Sekarang Pendidikan Islam dikembangkan
dengan Pendidikan Islam yang kompatibel
dengan modernitas maksudnya peserta didik dalam lembaga-lembaga pendidikan
Islam harus memiliki kemampuan, keterampilan dan ilmu yang dibutuhkan untuk
menjawab tantangan zaman atau kemoderenan
Pada Masa Depan Pendidikan Islam akan Memiliki banyak
tantangan maka Pendidikan Islam harus menyesuaikan dengan apa yang menjadi
tantangan-tantangan yang akan dihadapi.
Lembaga-Lembaga Alternatif dalam Pendidikan Islam Masa
Depan yaitu Keluarga, TPQ, dan Pesantren.
DAFTAR PUSTAKA
http://flashcompugraphics.blogspot.com/2013/01/pendidikan-islam-dan-tantangan-masa.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar