A. PENGERTIAN SUBSTANSI
Substansi dapat ditafsirkan sebagai ’yang
membentuk sesuatu,’ atau yang pada dasarnya merupakan sesuatu atau dapat
disempitkan menjadi itu. Pembahasan mengenai substansi akan selalu
terkait dengan esensi (essence).
Esensi
ialah hakekat barang sesuatu. Setiap substansi mengandung pengertian esensi;
tetapi tidak setiap esensi mengandung pengertian substansi.Aristoteles
menunjukan bahwa substansi dapat dikatakan merupakan sesuatu yang di dalamnya
terwujud esensi. Substansi dipandang sebagai sesuatu yang adanya terdapat di
dalam dirinya sendiri.
Jika kita
memperhatikan secarik kertas, kertas tersebut mempunyai kulitas-kualitas yang
tertentu, namun kertas tadi tidak nampak seperti kualitas-kualitas itu. Jika
bangun kertas tersebut diubah, kertas tadi tetap merupakan kertas. Karena itu
yang dinamakan kertas bukanlah bangunnya, atau warnanya, atau sesuatu
kualitasnya yang lain yang dapat ditangkap oleh indera.
Yang dinamakan kertas ialah substansinya, yaitu
kertas.Jadi kalau anda bertanya sekali lagi kepada saya, mudah-mudahan John
Locke bisa memberi jawaban, setelah lama berselang John Locke menunjukan
bahwa kita tidak akan dapat mengetahui substansi secara langsung, melainkan
secara tidak langsung. Karena
itu ia menamakan substansi terdalam itu ”sesuatu yang saya tidak tahu apa”
Bentuk (Form).
Bentuk
ialah struktur.Perkataan ’bentuk’ mempunyai sejumlah makna. Salah satu
diantaranya dapat kita lihat dalam cara berikut ini. Jika kita memperhatikan
sebuah meja kayu, kita akan sependapat bahwa meja itu dapat dibedakan dua unsur
yang kedua-duanya mutlak diperlukan agar terdapat sebuah meja tersebut.
Pertama-tama
ada kayunya. Jelas bahwa meja kayu ini tidak akan ada, jika tidak terbuat dari
kayu. Sebelumnya kita telah sepakat untuk menyebut kayu sebagai materi yang
darinya meja itu dibuat. Tetapi perhatikanlah bahwa kayu yang sama itu dapat
dibuat menjadi kursi atau bahkan tempat tidur.
2
Apa yang
membedakan meja dengan kursi dan tempat tidur ialah strukturnya. Inilah yang
kita namakan bentuk. Harus diingat bahwa yang kita maksud bukan hanya
bangunnya, karena meja itu dapat mempunyai bangun yang berlainan.
Yang kita
maksudkan ialah strukturnya. Sebuah patung dapat mempunyai bentuk manusia, dan
bangun yang berlain-lainan semuanya dapat menyatakan bentuk yang sama itu.
Tetapi tidak sebuah pun yang mempunyai esensi manusia, karena patung itu bukan
manusia, substansinya tetap sebuah batu.
Esensi
yang tewujud dalam materi akan mempunyai bentuk yang khusus dan bentuk itu
dapat dicontoh. Perkataan ’bentuk’ kadang-kadang juga berarti pola barang
sesuatu. Jika kita berbicara tentang bentuk syair, yang kita maksudkan sebagai
polanya yang dilawankan dengan isinya.
Pendapat
dari Aristotles mengatakan bahwa realitas terdiri atas berbagai benda terpisah
yang menciptakan suatu kesatuan antara bentuk dan substansi. ”Substansi” adalah
bahan untuk membuat benda-benda, sedangkan ”bentuk” adalah ciri khas
masing-masing benda. (red.saya menganggap bahwa ’bahan, benda-benda, atau
benda’, tidak berarti materi yang nyata saja, melainkan memiliki arti luas
sebagai ’sesuatu’).
Jika ’ayam
mati –dan tidak berkotek lagi—’bentuk’—nya tidak ada lagi. Satu-satunya yang
tinggal hanyalah ’substansi’ ayam itu. Substansi selalu menyimpan
potensi untuk mewujudkan ’bentuk’ tertentu.
Dapat kita
katakan bahwa ’substansi’ selalu berusaha untuk mewujudkan potensi
bawaan. Setiap perubahan alam, masih menurut Aristoteles, merupakan perubahan substansi
dari yang ”potensial” menjadi ”aktual”. Sebutir telur ayam mempunyai potensi
untuk menjadi seekor ayam. Ini tidak berarti bahwa semua telur ayam menjadi
seekor ayam—banyak diantaranya berakhir di atas meja sarapan sebagai telor
ceplok, telor dadar, telor orak-arik, tanpa pernah menjadikan nyata potensi
mereka.
B. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini
dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam
Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)
3
Filsafat Ilmu
Robert
Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current
scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of
science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”.
(Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang
pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap
kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi
filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah
secara aktual).
Lewis
White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of
scientific thinking and tries to determine the value and significance of
scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi
metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya
ilmiah sebagai suatu keseluruhan)
A.
Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of
the nature of science, especially of its methods, its concepts and
presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual
discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis
mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan,
serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)
Michael V.
Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations
between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang
logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan
dan teori, yakni tentang metode ilmiah.)
May
Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral
analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral
secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan –
landasan ilmu.
Peter Caws
“Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for
science what philosophy in general does for the whole of human experience.
Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories
about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action;
on the other, it examines critically everything that may be offered as a ground
for belief or action, including its own theories, with a view to the
elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian
filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan
pada seluruh pengalaman manusia.
4
Filsafat
melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang
manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi
keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala
hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan,
termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan
dan kesalahan
Stephen R.
Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to
elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry
observational procedures, patens of argument, methods of representation and
calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the
grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical
methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba
pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan
ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode
penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan
seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari
sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).
Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran
bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab
pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis,
epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi
(filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :
a)
Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki
dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap
manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)
b)
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan
yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan
agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut
kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita
dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
c)
Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan?
Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral?
Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ?
Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi
metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis).
(Jujun S. Suriasumantri, 1982).
5
C. SUBSTANSI FILSAFAT ILMU
Telaah tentang substansi filsafat ilmu di bagi dalam
lima bagian,yaitu substansi yang berkenaan dengan:
1. Fakta atau kenyataan
2. Kebenaran
3. Konfirmasi
4. Logika inferensi
5. Telaah Konstruksi teori
1.
KENYATAAN ATAU
FAKTA
Fakta
atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang
filosofis yang melandasinya ;
a.
Positivistik : berpandangan
bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.
b.
Fenomenologik : memiliki
dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke
arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena.
Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan
system nilai.
c.
Rasionalistik : menganggap
suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional.
d.
Realisme-metafisik
:
berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan
obyektif.
e.
Pragmatisme : memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.
Di
sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta
obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian
realitas yang merupakan obyek kegiatan atau pengetahuan praktis manusia.
Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi (deskripsi fakta obyektif dalam
bahasa tertentu) terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Fakta ilmiah
merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis
itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam
istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah.
6
2. KEBENARAN (truth)
Sesungguhnya,
terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara tradisional,
kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik
(Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori
kebenaran dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran
performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng
Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik.(Ismaun;2001)
a.
Kebenaran
koherensi
Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau
keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang
lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun
nilai. Koherensi
ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran transendental.
b. Kebenaran korespondensi
Berfikir
benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan
dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan
atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta
dengan belief yang diyakini, yang sifatnya
spesifik.
c.
Kebenaran
peformatif
Ketika pemikiran manusia
menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada
dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan
kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam tindakan.
d.
Kebenaran Pragmatif
Yang benar adalah yang
konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki kegunaan praktis.
7
e.
Kebenaran Proposisi
Proposisi
adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentang dari
yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh
bila proposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar
adalah bila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi. Pendapat lain
yaitu dari Euclides, bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya,
melainkan dilihat dari benar materialnya.
f.
Kebenaran Structural Paradigmatik
Sesungguhnya
kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari kebenaran
korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisis
statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan
lainnya. Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang
dimaknai, karena akan mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih
menyeluruh.
8
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Substansi dapat ditafsirkan
sebagai ’yang membentuk sesuatu,’ atau yang pada dasarnya merupakan sesuatu
atau dapat disempitkan menjadi itu. Pembahasan mengenai substansi akan
selalu terkait dengan esensi (essence).
Substansi
filsafat dapat di kelompokkan dalam kenyataan atau fakta, kebenaran, konfimasi,
logika interferensi, dan telaah kontruksi teori. Kenyataan atau fakta adalah
sesuatu yang benar-benar terjadi dan memiliki bukti tetai tidak mungkin dengan
alat-alat yang serba kasar seperti panca indera, manusia dapat menyaksikan
hakikat semua kenyataan sebagai kebenaran sejati. Untuk dapat meraih hakikat
kenyataan sebagai kebenaran sejati, disamping panca indra dan akal, manusia
dikaruniai pula budi sebagai alat perantara antara akal dan Tuhan.
Kebenaran dapat di kelompokkan kedalam
Kebenaran Koherensi : Adanya kesesuaian atau keharmonisan antar suatu yang
memiliki hierarki yang tinggi dari suatu unsure tersebut, baik berupa skema,
ataupun nilai. Kebenaran
Korespondensi : Terbuktinya
sesuatu dengan adanya kejadian yang sejalan atau berlawanan arah antara fakta
yang diharapkan, antara fakta dan keyakinan. Kebenaran Performatif : Pemikiran
manusia yang menyatukan segalanya dalam tampilan actual dan menyatukan apapun
yang ada dibaliknya. Baik yang praktis, teoritik maupun yang filosifik. Sesuatu
benar apabila dapat diaktualisasikan dalm tindakan. Kebenaran Pragmatik : Yang benar adalah yang konkrit,
individual dan spesifik. Kebenaran Proporsi : Suatu kebenaran dapat diperoleh bila proporsinya benar,
yakni bila sesuai dengan persyaratan formal suatu proporsi. Kebenaran
Struktural Paradigmatik :Merupakan perkembangan dari kebenaran dari perkembangan
korespondensi.
9
DAFTAR PUSTAKA
http://prachzpratama2.blogspot.com/2012/11/substansi-filsafat-ilmu-filsafat-ilmu.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar