Semua orang di dunia pasti
pernah mengeyam pendidikan, dengan berbagai jalur, jenis, dan jenjang
pendidikannya. Hal itu karena mereka mendapat pendidikan di manapun bukan hanya
di sekolah, melainkan bisa di rumah dan di masyarakat. Pendidikan pun dapat
berupaya agar peserta didik dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan
sejak memulai pendidikan tersebut. Dari sekian banyak pendidikan yang tersedia,
sebut saja pendidikan agama salah satu tujuannya agar peserta didik dapat
melaksanakan ibadah dan hidup sesuai dengan ketentuan agama yang dianutnya
begitu pun dengan Pendidikan Agama Islam.
Pendidikan Agama Islam ialah pendidikan yang berisi
mengenai tata cara ibadah, hukum-hukum dan ketentuan dalam islam, sifat dan
sikap yang tidak/dapat dilakukan kepada Allah, manusia, serta lingkungan, tata
cara membaca Al-Qur’an, dan kisah-kisah zaman Rasulullah dengan maksud membuat
peserta didik muslim menjadi lebih baik dan lebih mempertajam keimanan dan
keislamannya. Pendidikan agama yang
telah kita peroleh, dapat membimbing kita untuk melakukan hal-hal sesuai dengan
syariat Islam, dari sanalah pendidikan dapat berperan sebagai ilmu, sebab
karakterisitik ilmu salah satunya yaitu empiris yaitu berdasarkan pengalaman
dan dapat dibuktikan secara nyata.
Jadi merupakan suatu keharusan jika sebelum mendapat
pendidikan peserta didik yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, tidak sopan
menjadi sopan, dan tidak bisa menjadi bisa karena pendidikan seyogiannya dapat
mentrasnformasi seseorang menjadi lebih baik. Namun, terkadang banyak terjadi
apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Mari kita tengok beberapa
persoalan dan permasalahan yang sering terjadi di kalangan generasi muda kita,
banyak output-output dari beberapa lembaga pendidikan yang kurang
mencerminkan merekalah anak bangsa dan generasi muda yang telah/sedang mencari
ilmu contohnya seperti merajalelanya tindakan asusila di kalangan pelajar,
hebohnya tawuran antara sekolah satu dengan yang lainnya, kurangnya nilai-nilai
kesopanan terhadap pendidik, dll.
Banyak
fenomena kenakalan remaja yang terjadi menandakan belum teraplikasikannya Ilmu
Pendidikan Islam yang telah mereka dapatkan baik di sekolah, rumah, dan
masyarakat. Padahal pendidikan mampu membuat keseimbangan hidup, pendidikan pun
dapat menjaga konsistensi fitrah manusia dan dapat menghantarkan keseimbangan
emosional, intelektual, dan sosial sebagai manusia supaya hati akal dan mulut
dapat digunakan dan menjadi lebih positif. Oleh karena itu pendidikan bukan
sekedar menjawab ketidak tahuan dengan pengetahuan melainkan menyiapkan subjek
didik untuk menghadapi perubahan zaman yang sangat pesat agar tidak terjerumus
ke dalam keburukan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang-orang di
sekitarnya.
Di zaman sekarang ini ada beberapa masyarakat yang sering
menyepelekan Pendidikan Agama Islam, terkadang beberapa peserta didik
menganggap materi PAI itu mudah dan membahas hal yang itu-itu saja. Orang tua
murid pun lebih tertarik jika anak-anaknya bersekolah di sekolah umum dibanding
sekolah yang berbasis Islam. Mereka beranggapan prospek di masa depan lebih
banyak peluang kerjanya dan bisa dibilang lebih keren dibandingkan
dengan sekolah berbasis Islam. Hal tersebut terlihat saat salah seorang siswa
menjuarai MTQ apresiasinya lebih rendah dibandingkan saat ia menjuarai
Olimpiade Matematika atau Fisika, dan ketika mengambil bimbingan belajar pun
banyak yang lebih tertarik dengan materi Bahasa Inggris, Matematika, yang masih
bersifat umum bukan keagamaan.
Namun, hal tersebut pun tidak sepenuhnya menyurutkan
Pendidikan Agama Islam. Masih banyak orang-orang yang mengandalkan pesantren
dan lembaga-lembaga Pendidikan Agama Islam lain untuk menempuh proses
pendidikan karena dianggap lebih berpeluang menyelamatkan peserta didik dari
kejamnya lingkungan sekitar dan lebih memberikan banyak ilmu mengenai
kaidah-kaidah Islam agar lebih memperkokoh keIslamannya.
Dengan
melemahnya kepercayaan masyarakat kepada Pendidikan Islam maka seharusnya
Pendidikan Islam ini mencetak generasi-generasi penerus bangsa yang mampu bersaing
dengan Pendidikan lainnya agar tidak ada pernyataan bahwa ‘Pendidikan Islam itu
ketinggalan zaman’, dengan berbagai cara, baik dalam perbaikan metode,
kurikulum ataupun lainnya agar pendidikan Islam terasa kontribusinya dalam
perkembangan yang pesat ini dan dapat menjawab tantangan zaman yang dihadapi,
bukan sekedar menjadi follower dan viewer tetapi juga sebagai trendsetter
ke arah yang positif.
Jika itu
semua dapat terwujud maka sedikit demi sedikit Pendidikan Islam akan mencapai
kejayaannya kembali seperti dahulu kala. Akan tetapi harapan tinggallah harapan
yang tidak mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan, mungkin hal
tersebut telah menjadi harapan semua muslim. Namun, dengan perkembangan zaman
yang pesat ini pemikiran pun menjadi berkembang, dengan demikian sikap yang
dilakukan akan mudah sekali berubah. Tak jarang siswa-siswi di masa sekarang
dikatakan dewasa sebelum waktunya disebabkan banyak melakukan hal-hal yang
belum terjadi di masa-masa sebelumnya mereka sudah lebih faham.
Inilah sesuatu yang harus diperhatikan dalam pendidikan,
tak jarang siswa-siswi sama sekali tidak memiliki rasa segan dan patuh kepada
pendidiknya baik itu di rumah maupun di sekolah dan tak jarang pula mereka
meremehkan nasihat-nasihatnya. Apa yang harus dilakukan untuk
mengantisipasinya? Padahal sebagian besar sekolah mencicipi Pendidikan Islam
yang diharapkan dapat menambah kekuatan Akidah dan Akhlak pelajarnya. Semua ini
harus difikirkan matang-matang agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai
dengan maksimal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar